Tanah di Sulsel Mulai Masam, Begini Mengatasinya Agar Hasil Panen Optimal

Seorang petani memupuki lahan pertaniannya di Sulawesi Selatan (SariAgri/Usman Muin)

Editor: Arya Pandora - Kamis, 18 Juni 2020 | 09:10 WIB

SariAgri -  Banyaknya lahan yang berubah akibat perubahan cuaca serta perubahan peruntukan lahan seperti industri menjadi perubahan kondisi tanah. Sebagian besar lahan pertanian di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan kondisi tanahnya saat ini masam.

Salah satu penyebabnya adalah tingginya curah hujan. Curah hujan yang tinggi bisa mempercepat proses penghancuran mineral tanah. Kemasaman tanah juga disebabkan oleh pemanfaatan tanah tanpa jeda, dan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.

Hal ini mengakibatkan beberapa komoditas di Sulawesi Selatan, utamanya pada padi, jagung, dan kedelai menurun produktivitasnya. Kendala utama pertumbuhan tanaman pada tanah masam adalah keracunan Al, Fe, dan Mn. Tanah yang terlalu masam juga menghambat perkembangan mikroorganisme tertentu di dalam tanah.

Menurut pakar Pertanian organik Sulawesi Selatan, Sudarmin, Kemasaman tanah yang ideal untuk tanaman berkisar antara pH 5,5 – 7,5, tergantung jenis tanaman yang dibudidayakan.

"Pada kondisi tanah masam kuat atau basah kuat, pertumbuhan tanaman akan terganggu. Beberapa unsur hara tidak dapat diserap oleh tanaman, karena adanya reaksi kimia di dalam tanah yang mengikat atau membelenggu ion-ion dari unsur hara tersebut," ungkapnya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan Darmin Organik, pemupukan pada tanah masam atau tanah basa menjadi tidak efektif. Karena meskipun diberi tambahan unsur hara, tanah tidak mampu memanfaatkannya.

"Oleh sebab itu, sebelum melakukan pemupukan, pH tanah harus dikembalikan pada kondisi ideal pada kisaran 5,5 – 7,5, " tegas sudarmin dalam diskusi pecinta tani indonesia.

Untuk mencegah terjadinya peningkatan kemasaman tanah, petani diharapkan melakukan pemupukan berimbang, dengan mengaplikasikan pupuk organik dan anorganik secara proporsional, dan lebih baik lagi menggunakan pupuk dolomit.

"Pupuk dolomit memiliki  kandungan hara Kalsium (CaO) dan Magnesium (MgO). Oleh karena itu, pupuk dolomit berfungsi untuk menetralkan keasaman tanah atau menaikkan pH tanah," jelasnya. 

Baca Juga: Tanah di Sulsel Mulai Masam, Begini Mengatasinya Agar Hasil Panen Optimal
Restorasi Sawah Padi Gogo dan Padi Rawa Solusi Atasi Kerisis Pangan

Berdasarkan Balai Litbang Pertanian Kementerian Pertanian, langkah tersebut dilakukan untuk mencapai status semua hara esensial seimbang dan optimal dalam tanah. Tujuannya untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil pertanian, efisiensi pemupukan, kesuburan tanah, serta menghindari pencemaran lingkungan.

"Jenis hara tanah yang sudah mencapai kadar optimal atau status tinggi, tidak perlu ditambahkan lagi, kecuali sebagai pengganti hara yang terangkut sewaktu panen. Hal ini dilakukan untuk mencapai status semua hara dalam tanah dan lingkungan tumbuh yang optimal bagi pertumbuhan dan hasil tanaman," tutup pria yang dijuluki guru tani organik. (Usman Muin/SariAgri Makassar)

Video Terkait