Mengapa Pertanian Thailand Berkembang Pesat? Ini Jawabannya

Ilustrasi sektor pertanian (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Sabtu, 16 Mei 2020 | 17:35 WIB

SariAgri - Thailand merupakan salah satu negara di Asia yang dianggap sukses dalam mengembangkan sektor pertanian. Bahkan, saat ini hasil pertanian dengan labelisasi 'Bangkok'dikenal memiliki kualitas bagus baik bentuk maupun rasanya.

Perkembangan pesat Thailand di sektor pertanian menarik perhatian banyak negara, termasuk Indonesia. Pasalnya, semua buah yang dihasilkan Thailand juga dapat dikembangkan di Indonesia.

Menurut pakar pertanian Universitas Padjajaran (UNPAD) Prof Benny Joy, petani di Thailand memiliki kewenangan untuk menentukan harga jual komoditasnya. Selain itu, petani negeri gajah putih juga memiliki cara dalam menjaga kestabilan harga hasil pertaniannya.

"Sekarang kan semua yang bangkok kan kualitasnya bagus harganya mahal. Saya dapat informasi begini, di Thailand itu petani yang menentukan harga. Kalau di kita kan ada koperasi BUD, KUD. Misalnya, untuk menjaga kestabilan harga dan produksi melimpah. Kalau disana dimusnahkan, digiling sehingga suplai demandnya stabil," ujarnya kepad SariAgri.id, Kamis (15/5/2020).

Benny mengatakan pemerintah Thailand tidak campur tangan dalam menentukan harga jual produksi pertanian. Mereka hanya bertugas menyediakan sarana produksi pertanian (saprodi) seperti pupuk, insektisida dan kredit untuk petani.

"Pemerintah di Thailand bertugas menyediakan saprodi (sarana produksi pertanian menyediakan pupuk, kredit dan insectisida segala macam pemerinntah tidak campur tangan soal urusan harga," katanya.

Selain itu, pemerintah Thailand juga memberikan dukungan terhadap lembaga penelitian di sektor pertanian secara penuh. Kondisi ini, lanjut dia, yang sangat berbeda dengan di Indonesia.

"Disana pemerintah juga bertugas memajukan lembaga penelitian. Jadi dana yang dikucurkan pemerintah untuk lembaga penelitian jangan dibandingkan dengan Indonesia yang kecil. Kita mau penelitian tauge saja susah," jelasnya.

Baca Juga: Mengapa Pertanian Thailand Berkembang Pesat? Ini Jawabannya
Singapura Akan Jadikan Sembilan Atap Parkir Sebagai Lahan Pertanian

Benny menambahkan di Indonesia juga masih banyak masalah yang dihadapisektor pertanian. Dia mencontohkan, rantai niaga yang terlalu panjang sehingga merugikan petani.

"Pertanian di Indonesia masalahnya banyak rantai niaga yang terlalu panjang. Misalnya bawang di Brebes dijual Rp3000 per kilo nanti sampai Bandung bisa Rp15 ribu kan itu jauh sekali. Petani yang dirugikan," pungkasnya. (Istihanah Soejoethi)

Video Terkait