Petani Keluhkan Mahalnya Harga Pupuk, Produksi Pangan Jadi Terbatas

Ilustrasi petani menanam. (Pixabay)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Dera - Rabu, 25 Januari 2023 | 10:00 WIB

Sariagri - Nigeria tetap kewalahan dengan meroketnya harga pangan. Para petani disana mengeluhkan tingginya biaya pupuk yang membatasi produksi pangan di tengah pertanian musim kemarau tanpa dukungan yang konkret.

Pakar agribisnis dan Chief Executive Officer, EA Daniels Farm, Engr Daniel Ijeh, mengatakan bahwa budidaya pertanian yang dilakukan petani terbatas pada hamparan lahan pertanian yang kecil karena biaya pupuk dan input pertanian lainnya yang terus meningkat.

Ijeh mengatakan, bahkan ketika beberapa pupuk ini dibeli dengan harga selangit, kebanyakan ditemukan sebagai produk palsu, dan ini menambah kesengsaraan petani.

"Mahalnya harga pupuk telah menghalangi kami untuk memperluas areal tanaman kami. Produsen pupuk harus memantau distribusi dan konsumsi produknya. Mereka harus berproduksi dengan mempertimbangkan pengguna akhir, memberi mereka nilai untuk uang mereka. Produsen pupuk memiliki posisi yang lebih baik untuk memeriksa pemalsuan," ujarnya seperti dikutip dari vanguard.

Sedangkan pupuk organik menurutnya tidak bisa digantikan dengan pupuk anorganik sebagai alternatif untuk meredam dampak tingginya harga pupuk anorganik, melainkan saling melengkapi.

"Tidak (bisa tergantikan), kurasa tidak. Ada tempat untuk pupuk organik dan juga ada tempat untuk pupuk anorganik. Tidak ada yang bisa menggantikan yang lain karena saling melengkapi dan tidak bersaing," tambahnya.

Baca Juga: Petani Keluhkan Mahalnya Harga Pupuk, Produksi Pangan Jadi Terbatas
Jadi Alternatif Pupuk, Lampung Sosialisasi Penggunaan Biosaka ke Petani

Namun, dia mengatakan agar petani dapat melanjutkan produksi pangan, ada kebutuhan untuk mengadopsi teknologi modern dan praktik agronomi terbaik.

"Ini sebagai hasil dari penggunaan benih hibrida dan adopsi teknologi irigasi tetes serta keahlian agronomis yang lebih baik," ucapnya.