Kisah Howard Buffett, Anak Miliarder yang Memutuskan Jadi Petani

Howard Buffett. (situs thehoward)

Editor: Dera - Rabu, 21 Desember 2022 | 12:00 WIB

Sariagri - Profesi petani identik dengan pekerjaan yang membuat kotor dan penuh keringat. Namun perlu diketahui, terdapat petani yang bahkan menggeluti bidang selain pertanian. 

Dia adalah Howard Buffett, petani yang juga aktif di bidang bisnis, politik, konservasi dan fotografi. Howard Buffett adalah putra seorang miliarder bernama Warren Buffett. 

Warren Buffett sebelumnya mengatakan bahwa ia tidak akan mewariskan perusahaannya kepada sang putra. Howard Buffett memutuskan untuk menjadi petani jagung dan kedelai setelah ia putus sekolah dari tiga perguruan tinggi. 

"Saya tadinya ingin menjadi pengacara dan belajar di sekolah hukum, saya telah merencanakan segalanya kemudian saya pergi ke perguruan tinggi. Lalu saya menyadari bahwa hidup tidak berjalan seperti itu," kata Howard. 

Mengutip Insider, selama beberapa tahun, Howard bekerja sebagai operator ekskavator di Omaha, menggali ruang bawah tanah. Dia juga membantu mengolah ladang jagung di Nebraska. Pada 1986, ayah Howard membeli lahan pertanian dan peternakan seharga 300.000 dolar Amerika Serikat (AS). Lahan tersebut kemudian disewakan kepada Howard.  

Tidak hanya fokus pada pertanian, Howard juga aktif kampanye untuk mengakhiri kelaparan melalui pekerjaannya sebagai seorang konservasionis dan fotografer satwa liar. Pada tahun-tahun awalnya sebagai seorang dermawan, ia mendirikan cagar alam cheetah seluas 6.000 hektare di Afrika Selatan. 

Melansir The Atlantic, Howard juga mendukung Program Konservasi Gorila Internasional. Dia menghabiskan banyak waktu dan uang untuk memerangi pemburu liar di Taman Nasional Virunga, Republik Demokratik Kongo.

Namun tak lama kemudian, terlintas di benaknya bahwa cara terbaik untuk melindungi satwa liar Afrika adalah dengan meningkatkan penghidupan penduduknya. 

Baca Juga: Kisah Howard Buffett, Anak Miliarder yang Memutuskan Jadi Petani
Indonesia Bakal Impor Bibit Rekayasa, Ini Dampak Buruk ke Petani

“Dari kejauhan, mudah untuk menyalahkan para pemburu yang tamak dan pejabat pemerintah yang korup atas penghancuran ekosistem penting,” kata Howard dalam bukunya berjudul 40 Chances: Finding Hope in a Hungry World. 

“Tetapi saya juga melihat bahwa orang-orang yang berbagi ekosistem dengan spesies yang terancam punah, juga terancam punah. Banyak yang kelaparan dan saya menyadari bahwa saya harus mengalihkan upaya saya ke masalah yang lebih mendasar,” tukasnya.