Sayuran Segar di Piala Dunia Qatar Tak Lepas dari Teknologi Pertanian Cina

Ilustrasi pertanian hidroponik. (Pixabay/iamareri)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Sabtu, 3 Desember 2022 | 13:00 WIB

Selama berlangsungnya Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar, sayuran segar telah disajikan di atas meja untuk para pemain dan penggemar dari seluruh dunia, dengan bantuan teknologi Cina untuk menanam sayuran di padang pasir.

Terletak di pantai barat daya Teluk Persia, Qatar sangat bergantung pada impor sayuran, daging, dan produk pertanian lainnya karena terbatasnya lahan subur dan sumber daya air tawar.

Sejak akhir tahun 2019, Institute of Urban Agriculture/IUA dari Akademi Ilmu Pertanian Cina memberikan teknik penanaman tingkat lanjut kepada perusahaan pertanian lokal di Qatar.

Seorang peneliti di IUA, Qi Zhiyong, menjelaskan bahwa model budidaya lama di Qatar adalah dengan menanam sayuran di dalam wadah di padang pasir. Menurutnya, model tersebut tidak efisien dan menghabiskan banyak energi karena menggunakan AC untuk mengontrol suhu di dalam wadah.

Pakar pertanian Cina itu menyarankan agar memasang rumah kaca yang teduh untuk menutupi wadah tersebut.

Sinar matahari sangat intens di daerah gurun. Meneduhkan sinar matahari dapat sangat mengurangi konsumsi energi dan meningkatkan produksi,” imbuh Qi, seperti dilansir Xinhua.

Saat ini, tim peneliti juga mengembangkan teknik produksi rumah kaca yang cocok bagi Qatar. Di masa depan, rumah kaca di padang pasir akan digunakan untuk menanam sayuran, bukan hanya untuk naungan,” tambahnya.

Guna menghindari sinar matahari yang kuat di padang pasir, para ahli Cina menyiapkan teknik pengendalian lingkungan lampu LED untuk memastikan kebutuhan tanaman akan cahaya.

Tanaman yang berbeda memerlukan jenis cahaya yang berbeda untuk tumbuh. Kami telah mengembangkan formula lampu LED khusus untuk sayuran yang berbeda serta peralatan terkait, terang Qi.

Selain itu, IUA membantu memperbaiki pola produksi sayuran di Qatar melalui kombinasi teknik hidroponik dan tanah serat aktif padat, atau dikenal dengan nama teknik Leitu.

Yang terakhir menggantikan tanah dengan bahan ekologis yang terutama terbuat dari jerami, batang kapas, dan limbah pertanian dan kehutanan lainnya, kata Qi, penemu teknik Leitu.

Teknik Leitu secara signifikan memperluas variasi sayuran yang dapat ditanam di Qatar, meningkatkan kepadatan penanaman, dan mengurangi kesulitan dalam pengendalian lingkungan, sehingga memastikan hasil tinggi dengan konsumsi energi yang rendah.

Kombinasi hidroponik dan teknik Leitu telah mengubah model produksi sayuran di Qatar.

Hidroponik terutama membudidayakan sayuran berdaun, sedangkan teknik Leitu memberikan kondisi pertumbuhan untuk lebih banyak varietas sayuran seperti terong, tomat, dan mentimun. Saat ini, kami sedang berdiskusi dengan mitra Qatar kami untuk memperluas cakupan budidaya dan menanam lebih banyak jenis sayuran, kata Qi.

Seluruh teknik tersebut membantu tercapainya standar pengelolaan kontrol suhu, cahaya, dan kelembaban dalam proses pertumbuhan sayuran dalam wadah.

Baca Juga: Sayuran Segar di Piala Dunia Qatar Tak Lepas dari Teknologi Pertanian Cina
Keren, Petani Muda di China Jalankan Bisnis Lewat Siaran Langsung di e-Commerce

Menurut IUA, teknologi Cina berhasil meningkatkan produksi sayuran di Qatar dari dua varietas pada tiga tahun lalu menjadi lebih dari 30 varietas, termasuk enam jenis selada, empat jenis collard, lima jenis paprika, kol, bayam, dan seledri.

Sejauh ini, perusahaan lokal yang didukung oleh IUA telah membangun beberapa basis penanaman sayuran di Qatar dan mencapai produksi pabrik sayuran di tengah suhu tinggi antara 53 hingga 55 derajat Celcius di gurun tropis.