Petani Bali Akan Dapat Mesin Penggiling Padi Tahun Depan

Pekerja mengemas beras di penggilingan padi Desa Kajongan, Bojongsari, Purbalingga, Jawa Tengah, Kamis (29/4/2021). Harga beras di wilayah eks-Karesidenan Banyumas masih stabil pada kisaran Rp9000-Rp.9500 per kilogram untuk jenis IR64 Medium, pada tingkat pedagang hingga pengecer selama Ramadhan 1442 H ini, dengan stok tersimpan di gudang Bulog Banyumas mencapai 21 ribu ton setara beras. (Foto: ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 2 Desember 2022 | 11:00 WIB

Sariagri - Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali I Wayan Sunada menyampaikan bahwa bantuan kepada petani berupa mesin penggiling padi atau penyosohan akan diserahkan pada tahun 2023.

"Itu penyosohan RMU (Rice Milling Unit), itu sudah kita usulkan melalui Gubernur Wayan Koster ke Kementerian BUMN unit RMU nanti akan kita tempatkan di Tabanan, Desa Meliling, sudah akan di tahun 2023," kata Sunada dalam Festival Petani Mandiri di Kabupaten Tabanan, Kamis (1/12/2022).

Selain di Kabupaten Tabanan, lanjutnya, pejabat Pemprov Bali itu menyebut Kabupaten Jembrana juga akan diberikan bantuan mesin penggiling padi di tahun yang sama.

"Harapan kita supaya gabah yang kita produksi sendiri kita akan olah di Bali, sehingga kita tidak usah lagi mendatangkan beras untuk Bali," ujarnya sekaligus menyampaikan bahwa mesin yang akan didatangkan berkapasitas cukup besar.

Rencana pemberian bantuan mesin penggiling padi sendiri sebelumnya sempat disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster dalam festival pangan lokal Bali pada Kamis (3/11) lalu dan disambut gembira petani.

Salah satu kelompok tani dari Kabupaten Tabanan, yaitu Kelompok Maja Tani Soka mengaku mesin RMU tersebut akan sangat membantu dalam hal mengurangi biaya.

"Itu salah satu penunjang untuk produksi ke depannya, lebih semangat lah petani kalau dukungan pemerintah terealisasi atau tepat sasaran. Jadi tidak perlu bayar, itu seperti polanya gubernur bahkan presiden, kita diarahkan jadi petani mandiri, kalau tidak ke penyosohan atau bayar kan mandiri," kata Ketua Kelompok Maja Tani Soka Nengah Sunanjaya.

Meskipun belum dapat dipastikan nantinya siapa yang akan mengelola mesin tersebut, Sunanjaya menaruh harapan agar pemerintah memberikan bantuan untuk kelompok taninya yang selama ini harus membayar jasa penyosohan.

Sementara itu, Pekaseh Subak Jatiluwih Wayan Mustra sebagai salah satu pemilik penyosohan yang digunakan petani mengaku bahwa mesin penggiling padi itu adalah pendukung yang penting.

"Punya saya sendiri mampu menggiling gabah 1 ton dalam satu jam, itu sudah besar dan kapasitas disini cukup. Dalam sehari tergantung permintaan tetapi bisa sampai 8 ton," kata dia kepada media di Tabanan.

Baca Juga: Petani Bali Akan Dapat Mesin Penggiling Padi Tahun Depan
Budidaya Padi Dengan Standar SRP Tingkatkan Produksi Hingga 30 Persen

Wayan Mustra menyampaikan bahwa sesungguhnya jumlah penyosohan di Kabupaten Tabanan khususnya wilayah Jatiluwih tergolong banyak, meskipun milik individu, sehingga dirinya mendorong agar pemerintah memberikan dukungan alat lainnya.

"Kalau penyosohan disini sudah banyak, mungkin itu yang kita berdayakan dulu, kalau mungkin ada dana mungkin di pengeringan menggunakan solar panel yang di atap. Kalau ada bantuan sepertinya tetap bayar karena untuk operasionalnya," ujar Wayan Mustra.