Subak, Sistem Pertanian di Bali yang Jadi Warisan Budaya Dunia

Ilustrasi sistem pertanian di Bali. (Dok. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi)

Editor: Dera - Kamis, 1 Desember 2022 | 16:30 WIB

Sariagri - Selain dikenal karena keindahan pantainya, Bali juga memiliki kekayaan alam yang dikenal hingga mancanegara. Salah satunya adalah persawahan hijau berundak-undak yang khas nan memesona yang dikenal sebagai sawah terasering.

Rasanya wisatawan lokal maupun mancanegara belum lengkap ke Bali kalau tidak menyaksikan keindahan surga dunia tersebut, seperti di Desa Tegalalang dan Desa Blimbing, Pupuan, yang berada di pusat wisata terkenal, Ubud, di Kabupaten Gianyar. Kemudian Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.

Pertanian di desa-desa itu menjalankan sistem Subak, yaitu sebuah organisasi masyarakat adat yang mengatur sistem irigasi tradisional dan telah dijalankan sejak abad ke-11.

Menariknya, Subak bukan semata sistem pertanian, tetapi juga mewakili budaya Bali yang berbasis pertanian khususnya pertanian lahan basah yaitu padi. Pada Subak, tecermin budaya gotong-royong, pelestarian lingkungan, pengetahuan musim, angin, dan pengendalian hama.

Subak Salah Satu Manifestasi Tri Hita Karana

Melansir laman resmi maritim.go.id, Subak diatur oleh seorang pemuka adat yang disebut pekaseh dan biasanya juga berprofesi sebagai petani. Subak adalah salah satu manifestasi Tri Hita Karana (THK), yaitu filosofi Hindu Bali dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan sesamanya, manusia dengan alam, dan manusia dengan Sang Pencipta.

I Gede Vibhuti Kumarananda, Penyuluh Pertanian Ahli Pertama Alsintan mengatakan Subak adalah sistem pengairan masyarakat Bali yang menyangkut hukum adat yang mempunyai ciri khas, yaitu sosial, pertanian, keagamaan dengan tekad dan semangat gotong royong dalam usaha memperoleh air dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan air dalam menghasilkan tanaman pangan terutama padi dan palawija.

Kemudian dijelaskan juga bahwa sistim irigasi tradisional ini merupakan perkumpulan petani yang mengelola air irigasi di persawahan. Keunikannya terlihat dari kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan oleh anggota Subak secara rutin sesuai tahapan pertumbuhan padi, mulai dari mengolah tanah hingga hasil panen padi disimpan di lumbung.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ahli, sistem irigasi subak merupakan cerminan dari THK sebuah filosofi yang melekat kuat di Bali, yang mengajarkan bahwa manusia dapat hidup bahagia, aman, tentram dan lahir batin.

Bila dipaparkan konsep THK ini secara inti terdiri dari Parahyangan yang ditujukan untuk pemujaan terhadap pura di kawasan Subak, Pawongan menandakan adanya organisasi yang mengatur sistem irigasi Subak, dan Palemahan menunjukkan kepemilikan tanah atau wilayah di setiap Subak.

Nah, melalui ketiga hal inilah yang memiliki hubungan timbal balik, menjadi sangat relevan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang sekarang begitu populer dan sering dijadikan acuan oleh setiap perencana pembangunan di berbagai sektor.

Subak Ditetapkan UNESCO Sebagai Warisan Budaya

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNESCO, pada sidangnya di Saint Petersburg, Rusia, 20 Juni 2012, telah menetapkan subak sebagai warisan budaya dunia.

Dan persawahan Jatiluwih boleh dibilang masih menjalankan subak dengan pola asli, yaitu tanpa adanya bangunan beton pada aliran irigasinya. Kemudian, padi bali merah adalah varietas lokal yang masih dipertahankan untuk ditanam di persawahan Jatiluwih.

Baca Juga: Subak, Sistem Pertanian di Bali yang Jadi Warisan Budaya Dunia
Program RJIT Kementan Tingkatkan Produktivitas Pertanian di Daerah Ini

Petani setempat juga masih menjaga estetika menanam padi di lahan terasering agar tetap menghasilkan pemandangan indah hijaunya persawahan bersistem subak.

Terakhir, sejak 1993 area persawahan subak di Jatiluwih telah ditetapkan sebagai desa tujuan wisata. Subak di Jatiluwih juga dimasukkan oleh UNESCO sebagai bagian dari lanskap kultur Bali yang ikut dipengaruhi oleh subak sebagai warisan budaya dunia.