Atasi Krisis Pangan Global, Perusahaan Rusia Bakal Sumbang Pupuk ke Afrika

Ilustrasi kegiatan ekspor - impor (Pxhere)

Editor: Dera - Minggu, 20 November 2022 | 08:00 WIB

Sariagri - Sebagai upaya mengatasi kerawanan pangan global, Program Pangan Dunia PBB (WFP) memfasilitasi sumbangan 260.000 pupuk oleh perusahaan Rusia ke negara-negara yang paling membutuhkan di Afrika. Hal tersebut sesuai perjanjian yang ditandatangani pada 22 Juli di Istanbul, Turki. 

Pupuk merupakan input pertanian yang sangat penting terutama bagi para petani di benua Afrika yang sebentar lagi akan tutup musim tanam. Kurangnya pupuk selama musim tanam berdampak buruk pada hasil panen di masa depan, berpotensi memperburuk statistik kelaparan.

Mengutip situs resmi WFP, kapal pertama yang memuat 20.000 megaton pupuk NPK akan berlayar dari Belanda pada 21 November 2022. Kapal akan berlayar melalui Mozambik, dengan Malawi sebagai tujuan akhir. Kapal yang mengangkut pupuk merupakan kapal sewaan WFP. 

WFP berterima kasih kepada Pemerintah Malawi dan Mozambik, dan Pemerintah Belanda, dalam koordinasi yang erat dengan Uni Eropa. WFP juga berterima kasih atas kesediaan mereka untuk memungkinkan upaya kemanusiaan yang penting untuk ketahanan pangan global.

Prancis menjadi salah satu negara yang memprakarsai 'Operasi Penyelamatan Tanaman' yang diluncurkan di sela-sela Sidang Umum PBB ke-77 pada September. Program tersebut memungkinkan beberapa negara, organisasi internasional, dan sektor swasta, untuk secara efektif dan cepat bergabung dalam upaya penyelamatan tanaman pangan. 

Dengan bantuan Prancis, terdapat pengangkutan beberapa pengiriman pupuk ke Afrika Barat dalam beberapa minggu mendatang dengan kapal sewaan WFP.

Baca Juga: Atasi Krisis Pangan Global, Perusahaan Rusia Bakal Sumbang Pupuk ke Afrika
Sempat Tertahan, 20 Ribu Ton Pupuk Rusia Diizinkan Dikirim Ke Negara Ini

Hasil panen dilaporkan menurun di beberapa negara di Asia dan Afrika. Hal tersebut dikarenakan kenaikan harga pupuk dan sulitnya akses pupuk di negara-negara berkembang. 

Sanksi yang dikenakan pada Rusia dan Belarus setelah invasi Ukraina melemahkan pasokan kalium klorida, senyawa pupuk utama. Rusia dan Belarus bersama-sama menyumbang 40 persen dari ekspor kalium klorida global.