Harga Jagung Anjlok, Para Petani Datangi Kementan

Petani jagung panen. (Sariagri/Yongki)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 11 November 2022 | 17:45 WIB

Sariagri - Sejumlah petani Kabupaten Jember, Jawa Timur mendatangi Kantor Kementerian Pertanian di Jakarta pada Jumat (11/11/2022) untuk menyampaikan keluhan anjloknya harga jagung di tingkat petani.

"Harga jagung kini terjun bebas yakni jagung gelondong kering panen berkisar Rp1.400 hingga Rp1.600 per kilogram, sehingga tidak mampu menutupi biaya produksi petani," kata perwakilan petani Jember Jumantoro.

Sedangkan di lapangan harga jagung pipil kering berkisar Rp3.400 hingga Rp3.600 per kilogram, sehingga dikeluhkan petani dan komoditas tersebut dibutuhkan sebagai pakan ternak.

Menurutnya, biaya produksi menanam jagung dan biaya sewa lahan dengan kondisi saat ini mencapai Rp20 juta per hektare, sehingga dengan harga jual jagung sekitar Rp1.500 per kilogram maka petani akan merugi.

"Apabila hasil panen jagung berkisar 10 ton saja dengan harga jual Rp1.500 per kilogram, maka petani tidak akan mendapatkan keuntungan. Untuk itu, saya mendatangi Kementan untuk menyampaikan aspirasi petani di Jember," tuturnya.

Berdasarkan keterangan dari pihak Kementerian Pertanian, lanjut dia, Badan Pangan Nasional sudah mengatur harga komoditas jagung di tingkat produsen dan konsumen yakni harga jagung pipilan kering berkisar Rp3.500 hingga Rp4.200 per kilogram di tingkat produsen, sedangkan di tingkat konsumen mencapai Rp5.000 per kilogram.

"Rencananya kami akan menemui Kepala Staf Presiden dan Ketua HKTI untuk menyampaikan aspirasi petani Jember, sehingga diharapkan pemerintah melakukan intervensi untuk meningkatkan kesejahteraan petani," katanya.

Baca Juga: Harga Jagung Anjlok, Para Petani Datangi Kementan
Mentan SYL Minta Pabrik Pakan Serap Bahan Lokal Petani

Jumantoro yang juga Ketua Asosiasi Pangan Jawa Timur itu berharap pemerintah daerah juga ikut campur tangan untuk menyelamatkan harga jagung yang anjlok tersebut.

"Kabupaten Jember merupakan daerah agraris pertanian dan perkebunan, sehingga diharapkan kedua sektor itu menjadi perhatian pemerintah daerah untuk menjadikan petani berdaya, bukan sebaliknya," pungkasnya.