Cerita Petani Boyolali Terapkan Standar SRP untuk Budidaya Padi

Petani Boyolali yang menerapkan standar SRP untuk budidaya padi (Rikolto Indonesia)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Reza P - Minggu, 6 November 2022 | 07:00 WIB

Sariagri - Budidaya padi menggunakan standar Platform Padi Berkelanjutan (Sustainable Rice Platform/SRP) sudah diterapkan oleh sejumlah petani di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Ketua Asosiasi Petani Organik Boyolali (APOB) Kabupaten Boyolali, Murbowo mengatakan bahwa penerapan standar SRP untuk budidaya padi memiliki berbagai ragam manfaat, termasuk meningkatkan hasil panen.

Murbowo menjelaskan, penerapan standar SRP dalam budidaya padi membuat para petani semakin terencana pada persiapan awal tanam.

"Kami telah melaksanakan (standar SRP) di beberapa demplot (Demonstration Plot) mulai dari 2018 sudah kami rintis. Kalau di SRP itu benar-benar terencana. Ada sebuah catatan, ada perencaan kapan saya mulai tanam. Kalau konvensional itu catatannya kemungkinan hanya kalender dilingkari," kata Murbowo dalam sebuah diskusi tentang penerapan standar SRP dalam budidaya padi yang digelar oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan di Boyolali, Jumat (4/11).

Murbowo mengatakan, dengan manajemen awal yang lebih terencana itu memudahkan para petani untuk mengolah tanah. Selain itu, para petani juga dimudahkan dalam urusan memilih benih.

"Ada manajemen awal kalau di SRP. Pengolahan lahan sudah kita atur semua. Kemudian persiapan memilih benih, musim tanam seperti ini paling cocok kita pilih varietas apa? kalau konvensional biasanya hanya ikut-ikutan," ungkap Murbowo.

Murbowo menambahkan, soal manajemen air dari standar SRP pun berbeda dengan pertanian konvensional. Menurutnya, manajemen air dalam standar ini sudah memiliki aturan tersendiri, sementara konvensional menggunakan air semaksimal mungkin.

"Kunci utama itu adalah tanaman padi bukan termasuk tanaman air, namun butuh air. Jadi tidak selalu digenangi," ungkapnya.

Ketua Asosiasi Petani Organik (APOB) Kabupaten Boyolali Murbowo (tengah) dalam diskusi penerapan standar SRP untuk padi (Sariagri/Usman)
Ketua Asosiasi Petani Organik (APOB) Kabupaten Boyolali Murbowo (tengah) dalam diskusi penerapan standar SRP untuk padi (Sariagri/Usman)

Selain itu, Murbowo juga menerangkan bahwa pengendalian hama tanaman juga memiliki perbedaan dengan metode konvensional. Umumnya petani konvensional akan melakukan pengendalian hama hanya berdasarkan umur tanaman, seperti umur padi 15 hari belum disemprot dan umumnya pakai pestisida kimia.

"Di SRP harus terjun ke sawah, apakah di umur sekian tanaman ini perlu pengendalian atau tidak. Apabila tidak dalam keadaan terpaksa, tidak diizinkan untuk menggunakan bahan kimia.
Otomatis hasil juga akan menghasilkan produk sehat," terangnya.

Baca Juga: Cerita Petani Boyolali Terapkan Standar SRP untuk Budidaya Padi
Kisah Sukses Seorang Guru yang Bangun Budi Daya Melon Hidroponik selama Pandemi

Lebih lanjut, Murbowo menyampaikan bahwa penerapan standar SRP membuat hasil panen petani meningkat. Ia mengatakan, petani bisa mendapatkan hasil panen 10-11 ton per hektar pada 2021 lalu.

"Hasil demplot kami kemarin di 2021 per hektar ada yang 10 ton per hektare dan ada yang 11 ton per hektar. Untuk 2022, ada (kendala) musim yang tidak kompromi, maka ada penurunan tidak 110 ton per hektare tapi maksimal itu 10 ton per hektare," pungkasnya.

Video Terkait