Tradisi Marsiadapari, Gotong Royong Suku Batak Saat di Ladang

Ilustrasi Marsiadapari, Gotong Royong Suku Batak. (kemenkopmk.go.id)

Editor: Dera - Rabu, 2 November 2022 | 19:45 WIB

Sariagri - Marsiadapari adalah gotong royong yang dilakukan beberapa orang secara serentak di ladang masing-masing secara bergiliran, agar pekerjaan yang berat dipikul bersama hingga meringankan beban kumpulan.

Gotong royong memang merupakan karakter asli orang Indonesia yang sudah mendarah daging, begitu juga dengan masyarakat Batak Karo.

“Dokdok rap manuhuk, neang rap manea (berat sama dipikul, ringan sama dijingjing),” begitulah salah satu prinsip marsiadapari.

Pelaksanaan marsiadapari ini pun tidak hanya saat bertani di ladang, tetapi juga pada semua bidang kegiatan orang Batak. Seperti mendirikan rumah , kemalangan, pesta dan lain sebagainya.

Luar biasanya lagi, marsiadapari ini menebus kelas-kelas ekonomi. Miskin atau kaya, kuat atau lemah  semua saling memberi hati untuk dapat meringankan beban anggota kumpulannya.

“Sisolisoli do uhum, siadapari do gogo,” begitulah hukum dasar marsiadapari. Artinya, kau beri maka kau akan diberi. Hal ini berlaku untuk sikap, tenaga dan juga materi.

Dengan hukum dasar ini, semua akan dengan senang hati secara bersama-sama memikul beban yang ada pada kumpulannya.

“Tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona”, artinya yang berat terasa ringan, semua senang dan bersemangat memberikan bantuan. Sebab, mereka sadar suatu mereka saat pasti membutuhkan perlakuan seperti itu.

Uniknya lagi, marsiadapari ini dilakukan dengan penuh tanggungjawab bahwa pekerjaan itu dianggap sebagai miliknya, sehingga hasilnya akan lebih baik. Kegiatan ini juga menjadi catatan penting untuk diwariskan bagi kaum muda saat ini. Namun harus kita akui secara jujur, pelaksanaan marsiadapari itu tidak lagi seperti dulu hampir di setiap bidang kehidupan. Itu semua karena zaman yang berubah.

Melansir laman kemenkopmk.go.id, marsiadapari di ladang sudah sangat berkurang karena adanya traktor atau jetor serta mesin panen rontok padi dan tenaga kerja yang melimpah dengan upah lebih murah. Begitu juga misalnya membangun rumah, sudah lebih ekonomis diborongkan kepada tukang.

Tetapi, pada kegiatan pesta adat, apapun jenis adatnya prinsip marsiadapari itu masih dilaksanakan dengan teguh. Apalagi di desa masih kental kalipun, jika ada acara adat perkawinan (mangoli) atau kematian (monding), marhobas (mempersiapkan acara/ pesta), dengan semangat marsiadapari, kawan sekampung (dongan sahuta) akan ramai (renta) melakukannya.

Di beberapa desa tertentu di Bona Pasogit bahkan masih menjalankan boras liat (beras sumbangan bergilir) atau indahan liat (sumbangan nasi yang masak bergilir) untuk disumbangkan kepada tuan rumah pesta. Juga sijula-jula (arisan bergilir berupa uang, beras dan daging) kepada pemilik pesta.

Baca Juga: Tradisi Marsiadapari, Gotong Royong Suku Batak Saat di Ladang
Belajar dari Korsel, Anak Muda Hijrah ke Desa Jadi Petani

Bentuk lain marsiadapari adalah ‘manumpahi’ atau memberi bantuan baik berupa uang atau beras yang meringankan beban yang melaksankan adat. Meski si penerima akan menganggap itu utang, namun si pemberi tidak selalu menganggap itu piutang.

Pada kumpulan marga, marsiadapari dalam kalangan sedarah masih kentara kalilah. Jika ada beban atau masaalah seseorang dalam klan semarga, apalagi yang mempengaruhi martabat marga, maka otomatis semangat kebersamaan dan marsiadapari akan muncul. Melangkah bersama dan saling menopang serta menanggung resiko bersama.