Miris! Harga Gabah Merosot Tajam dan Kebanjiran, Petani Rugi Jutaan Rupiah

Petani menyelamatkan padi miliknya akibat banjir. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 1 November 2022 | 12:15 WIB

Banjir merendam ratusan hektar sawah di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Lantaran takut membusuk, petani terpaksa melakukan panen dini padi. Akibatnya petani merugi hingga ratusan juta rupiah.

Salah satu petani yang terpaksa memanen dini padi yakni Limin (55 tahun), warga Desa Ketapangtelu, Kecamatan Karangbinangun.

Jika cuaca normal, ia biasa memanen padi di usia 90 hari, kini ia harus memanen padinya di usia yang baru 70 hari. Biaya ekstra juga harus ia keluarkan untuk memanen padi yang sudah 2 hari terendam banjir.

"Sudah 2 hari terendam air, makanya dipanen dini saja, padahal padi baru berusia 70 hari. Sebab jika tidak segera dipanen warnanya bisa makin kecoklatan dan harganya makin anjlok," ungkap Limin kepada Sariagri, Senin (25/10/2022).

Ia menyebutkan akibat banjir harga gabah merosot tajam. Jika cuaca normal, hasil panen laku dijual Rp500.000 per kuintal, sekarang hanya dibeli tengkulak Rp250.000 per kuintal.

“Harga gabah kalau hujan begini, turunnya banyak sekali, sampai separohnya. Apalagi jika telat panen, harganya bisa makin turun lagi mencapai Rp150.000 per kuintal. Jika sudah begitu petani rugi banyak sekali,” keluhnya.

Karenanya, agar harga gabah tidak makin merosot, ia membawa padi hasil panen untuk kemudian dijemur ke tepi pematang atau jalan, sebelum dirontokkan menggunakan mesin.

"Selain biaya ekstra, harga padi juga menjadi turun karena terendam air," akunya.

Nasib serupa juga dialami Rubai Hamid yang juga harus memanen dini padi yang ada di sawahnya. Banjir yang merendam padi milik petani ini, menurut Rubai, disebabkan melubernya anak sungai Bengawan Njero yang tak mampu menampung tingginya curah hujan selama sepekan terakhir ini.

"Banjir ini terjadi karena (sungai) bengawan njero meluap karena tidak sanggup menampung air hujan dengan intensitas tinggi," jelasnya.

Akibat banjir yang merendam tanaman padinya itu, Rubai mengaku rugi puluhan juta rupiah. Pasalnya, dari biaya produksi dengan hasil panen saat padi kebanjiran tersebut hasilnya tidak sesuai dan padi juga menjadi turun harga.

"Tidak hanya saya saja, tapi banyak petani lain di kawasan Bengawan Njero yang mengalami nasib sama. Mohon pemerintah, baik daerah dan pusat, untuk melakukan normalisasi sungai yang kerap menjadi penyebab banjir tahunan di kawasan," tandasnya.