Peringatan Bahaya Penumpukan Plastik di Lahan Pertanian

Wisata persawahan di Tegalang, Bali. (Istimewa)

Editor: Reza P - Sabtu, 22 Oktober 2022 | 17:00 WIB

Sariagri - Badan Lingkungan PBB (UNEP) memperingatkan bahwa penggunaan plastik di lingkungan pertanian global telah mencapai tingkat yang membahayakan kesuburan tanah dan lingkungan. Untuk itu diperlukan upaya untuk mengganti peran plastik dengan bahan yang lebih dapat terurai secara hayati dan dapat dibuat kompos (biodegradable and compostable).

Plastik digunakan secara luas di bidang pertanian, mulai dari biji berlapis plastik hingga pembungkus/pelindung yang digunakan untuk mengubah suhu tanah dan mulsa untuk mencegah pertumbuhan gulma di atas tanaman. Bahan sintetis ini juga sengaja ditambahkan ke pupuk biosolid, yang disebarkan di ladang, dan digunakan dalam tabung irigasi, karung, dan botol.

Di satu sisi plastik telah membantu meningkatkan hasil panen, tetapi di sisi lain banyak bukti bahwa plastik yang terdegradasi mencemari tanah dan berdampak pada keanekaragaman hayati dan kesehatan tanah, demikian laporan yang diterbitkan UNEP, seperti dilansir di laman resmi PBB.

Selain itu, mikroplastik, seperti yang digunakan dalam beberapa pupuk, juga berdampak pada kesehatan manusia ketika ditransfer ke manusia melalui rantai makanan.

"Kami mulai memahami bahwa penumpukan plastik dapat berdampak luas pada kesehatan tanah, keanekaragaman hayati, dan produktivitas, yang semuanya penting untuk ketahanan pangan," kata kata Profesor Elaine Baker dari University of Sydney, yang ikut menulis laporan UNEP.

Bahaya plastik

Pakar UNEP menjelaskan bahwa seiring waktu, potongan plastik besar dapat pecah menjadi pecahan yang panjangnya kurang dari 5 mm dan meresap ke dalam tanah.

Mikroplastik ini dapat mengubah struktur fisik bumi di bawah kaki dan membatasi kapasitasnya untuk menahan air. Mikroplastik juga dapat mempengaruhi tanaman dengan mengurangi pertumbuhan akar dan penyerapan nutrisi.

Saat ini sumber terbesar pencemaran mikroplastik di tanah, adalah pupuk yang dihasilkan dari bahan organik seperti pupuk kandang. Meskipun pupuk jenis ini lebih murah dan lebih baik untuk lingkungan yang membuat pupuk, akn tetapi kotorannya tercampur dengan mikrosfer plastik yang sama yang diketahui umum digunakan dalam sabun, sampo, dan produk rias tertentu.

Beberapa negara telah melarang mikrosfer ini, tetapi mikroplastik lain terus memasuki sistem pengairan melalui filter rokok yang dibuang, komponen ban, dan serat pakaian sintetis.

Pengganti plastik

Laporan UNEP mengungkapkan bahwa kemajuan sedang dibuat untuk meningkatkan biodegradabilitas polimer yang digunakan dalam produk pertanian. Namun, beberapa film pelindung yang digunakan untuk mencegah hilangnya kelembapan sekarang dipasarkan dengan label 'sepenuhnya dapat terurai secara hayati dan dapat dibuat kompos', padahal faktanya tidak selalu demikian.

Polimer berbasis bio belum tentu dapat terurai secara hayati, beberapa mungkin sama beracunnya dengan polimer berbasis bahan bakar fosil, dan harganya masih menjadi masalah.

Salah satu solusi yang diusulkan oleh UNEP adalah menggunakan 'tanaman penutup'  yang melindungi tanah dan tidak dimaksudkan untuk dipanen. Solusi berbasis alam ini dapat menekan gulma, melawan penyakit tanah dan meningkatkan kesuburan tanah.

Baca Juga: Peringatan Bahaya Penumpukan Plastik di Lahan Pertanian
Demi Ketahanan Pangan, Cina Akan Terus Jaga Jenis Tanah Ini

UNEP mengakui ada kekhawatiran solusi tersebut dapat mengurangi hasil panen dan menambah biaya. Tapi ini jauh lebih baik untuk menekan bahaya plastik.

UNEP juga merekomendasikan pemerintah untuk secara sistematis mengurangi penggunaan plastik pertanian, dan membatasi jenis polimer tertentu untuk bahan pembuatan pupuk seperti yang mulai diterapkan Uni Eropa awal tahun ini.