Prakiraan Cuaca BMKG Harus Bisa Jadi Acuan Agar Petani Tidak Gagal Panen

Lahan pertanian di Tulungagung, Jawa Timur terendam banjir. (Foto: Sariagri/Arief L)

Editor: Reza P - Sabtu, 15 Oktober 2022 | 14:00 WIB

Sariagri - Cuaca ekstrem dan tidak menentu akan terus terjadi hingga beberapa waktu ke depan. Hal ini akan berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi bisa menyebabkan banjir luapan sungai yang juga akan terjadi di sekitar Jabodetabek. 

Kondisi ini dikhawatirkan akan menyebabkan gagal panen bagi petani penggarap lahan pinggiran ibu kota yang berdekatan sungai. Banjir akan merusak lahan pertanian.

Ketua DPR RI, Puan Maharani mengingatkan, agar BMKG memberikan prakiraan cuaca yang bisa menjadi acuan dalam menjalankan proses produksi tani. Puan menegaskan bahwa faktor alam masih sangat berpengaruh besar terhadap hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan rakyat.

“DPR RI juga mendesak agar pemerintah mendorong terjadinya transformasi teknologi di sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan agar prediksi cuaca terkait perubahan iklim mampu diadaptasi dengan berbagai perubahan pola tanam, bibit unggul yang tahan cuaca ekstrem, serta adanya obat-obatan yang sesuai dengan cuaca ekstrem,” ujar Puan, dalam keterangannya.

Puan juga menyarankan para petani untuk menunda tanam jika kondisi cuaca tidak memungkinkan dan memanfaatkan program asuransi tanaman sebagai antisipasi jika terjadi gagal panen.

“Pemerintah harus menggencarkan sosialisasi soal asuransi tanaman sehingga petani mau ikut program ini,” ungkapnya.

Puan menambahkan jika asuransi pertanian merupakan amanat dari UU 19 tahun 2013 di mana memberi jaminan bagi petani untuk mendapatkan ganti rugi yang sepadan bila mengalami gagal panen. Dalam pasal 37 ayat (1) UU 19/2013 disebutkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban melindungi usaha tani yang dilakukan oleh petani dalam bentuk asuransi pertanian. 

Usaha di sektor pertanian, khususnya usaha tani padi, dihadapkan pada risiko ketidakpastian yang cukup tinggi sehingga program asuransi tamanan sangat penting.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG Harus Bisa Jadi Acuan Agar Petani Tidak Gagal Panen
291 Hektare Sawah Padi di Aceh Utara Gagal Panen Akibat Banjir, Petani Rugi Miliaran

“Mulai dari risiko kegagalan panen yang disebabkan perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, serangan hama dan penyakit atau OPT yang menjadi sebab kerugian usaha petani,” sambungnya.

Program asuransi tanaman diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap risiko ketidakpastian dengan menjamin petani mendapatkan modal kerja untuk berusaha tani dari klaim asuransi. Bantuan Pemerintah dengan premi asuransi yang harus dibayar secara swadaya sebesar 20% proporsional sesuai luas area yang diasuransikan, dan 80% biaya premi merupakan subsidi.