Imbas Cuaca Ekstrem, Produksi Tanaman di Cina Turun

Ilustrasi tanah. (pixabay)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Reza P - Jumat, 7 Oktober 2022 | 17:00 WIB

Sariagri - Cina menghadapi cuaca ekstrem saat panas terik bahkan memecahkan rekor di beberapa bagian negara yang dilanda kekeringan. Sementara cuaca dingin melanda wilayah lain karena krisis iklim membuat kondisi lebih tidak stabil.

Di bagian selatan, puluhan peringatan terkait kekeringan telah dikeluarkan untuk kota dan kabupaten di provinsi Jiangxi. Pemerintah juga telah memperingatkan bahwa tanaman dapat mengalami kondisi kekeringan terburuk dalam 50 tahun.

Lebih jauh ke utara, kota Qingyang di provinsi Gansu mencapai 40,9 derajat Celcius (105 Fahrenheit) pada hari Senin, memecahkan rekor panas nasional untuk Oktober, pada saat suhu biasanya rata-rata sekitar 20 derajat Celcius (68 Fahrenheit). Hal ini berdasarkan layanan cuaca Ogimet. Provinsi selatan Guangdong, Guangxi, dan Fujian juga mencatat rekor panas baru untuk Oktober.

“Ini benar-benar tidak normal, tidak ada yang pernah mengalami suhu yang memecahkan rekor seperti ini di bulan Oktober,” kata Fang Keyan, seorang ilmuwan iklim di Fujian Normal University, dikutip dari CNN International.

Fang mengatakan transisi cuaca musiman menjadi lebih rumit untuk diperkirakan karena sirkulasi atmosfer terganggu oleh kenaikan suhu global di tengah krisis iklim.

Sementara bagian dari negara itu terik, beberapa daerah mungkin melihat hujan salju awal tahun ini.

Pusat Meteorologi Nasional (NMC) mengeluarkan peringatan gelombang dingin nasional paling awal pada hari Minggu, dengan udara dingin menyapu wilayah utara dan tengah negara itu. Udara dingin telah mendinginkan bagian utara Cina, dengan badan cuaca nasional memperingatkan bahwa suhu bisa berkisar sekitar 12 derajat Celcius.

Salju dan hujan es sedang diproyeksikan turun di wilayah utara Mongolia Dalam dan Heilongjiang dalam beberapa hari mendatang, menurut perkiraan NMC.

Produksi Tanaman di Cina Turun Akibat Cuaca Panas

Fang mengatakan fluktuasi suhu yang dramatis secara nasional sangat berbahaya bagi pertanian karena tanaman tidak dapat menahan musim panas yang panas dan kering yang berkepanjangan, sementara musim dingin yang tiba-tiba juga memperlambat pertumbuhan metabolisme tanaman.

Baca Juga: Imbas Cuaca Ekstrem, Produksi Tanaman di Cina Turun
Texas AS Alami Kekeringan Panjang, Para Petani Dihantui Gagal Panen

“Hal ini tentu mengurangi produksi tanaman dan akan sangat buruk bagi ekosistem karena hutan di kawasan subtropis biasanya memiliki puncak pertumbuhan pada musim panas dan musim gugur,” katanya.

China telah mengalami musim panas dengan cuaca ekstrem tahun ini, dengan ratusan ribu orang terkena curah hujan terberat dalam 60 tahun, diikuti oleh gelombang panas dahsyat yang mengeringkan sungai dan membunuh ribuan ternak.