Tak Tersentuh KUR, Nasib Petani Kecil Kian Terjepit

Ilustrasi petani di sawah. (Pixabay)

Editor: Dera - Jumat, 7 Oktober 2022 | 16:15 WIB

Sariagri - Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian merupakan skema pembiayaan atau kredit tanpa adanya agunan untuk memberikan pinjaman bagi para petani yang usahanya dinilai layak. 

Program tersebut bertujuan memperkuat kemampuan permodalan usaha dalam rangka pelaksanaan kebijakan percepatan pengembangan sektor riil dan pemberdayaan yang disalurkan melalui lembaga keuangan. Bahkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kredit usaha rakyat berkontribusi terhadap ketahanan pangan.

“Kredit usaha rakyat itu sangat berkontribusi terhadap ketahanan pangan. Itu mendapatkan apresiasi dari organisasi pangan dan pertanian dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) dan berbagai lembaga dunia,” kata Airlangga dalam keterangannya beberapa waktu lalu. 

Petani Kecil Sulit Akses KUR

Namun sayangnya, program KUR belum sepenuhnya dinikmati para petani kecil. Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menilai bahwa masih banyak petani di Indonesia yang tidak bisa memenuhi ketentuan administrasi perbankan. Hal tersebut menjadi salah satu kendala sulitnya petani kecil untuk berkembang di Tanah Air. 

Secara blak-blakan, pakar pertanian dari IPB tersebut mengatakan bahwa KUR tidak akan sampai kepada petani kecil. Meskipun banyak pelaku sektor pertanian yang akan menerima KUR, tetapi mereka adalah petani off farm, bukan petani kecil yang secara langsung menggarap lahannya.

Andreas mengatakan hanya kurang dari satu persen petani kecil yang mampu mengakses KUR. Pasalnya, banyak dari petani belum memiliki rekening bank. Pihaknya pun meminta pemerintah segera mengambil langkah cepat agar kendala tersebut dapat segera diatasi. 

Nasib Petani Kecil

Senada dengan Andreas, Ketua Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi (P3A) Serikat Petani Indonesia (SPI) Qomarun Najmi mengatakan KUR belum tersentuh petani kecil lantaran belum adanya terobosan dari pihak Bank untuk lebih memudahkan petani mendapatkan akses, sehingga membuat layanan menjadi lebih inklusif. 

"Petani-petani kecil yang sudah mengakses KUR ini biasanya bisa mengakses secara kolektif yaitu pengajuan bersama dalam satu kelompok. Untuk skema yang ini bisa berjalan dengan adanya pihak ketiga sebagai offtaker hasil panen. Meski ada beberapa temuan juga di lapangan, bahwa offtaker-nya yang wanprestasi," ujar Qomarun saat dihubungi Sariagri, Jumat (7/10/2022). 

Lebih lanjut pihaknya menyarankan agar pemerintah sebaiknya melakukan penguatan sumberdaya finansial yang difasilitasi oleh kelompok tani atau serikat tani.

"Selain modal finansial, petani juga butuh modal jaringan, baik jaringan informasi teknologi, maupun pasar. Ini perlu dipersiapkan dulu. Modal finansial ini kan menjadi kebutuhan kalau usaha taninya sudah menjadi usaha ekonomi juga," ungkap Qomarun. 

Baca Juga: Tak Tersentuh KUR, Nasib Petani Kecil Kian Terjepit
Banyak Petani Kecil Tak Bisa Nikmati KUR: Masalah Klasik Tanpa Solusi

"Sementara ini sebagian besar usaha tani yang dikembangkan petani masih sebatas untuk pemenuhan kebutuhan sendiri, belum menjadi skala ekonomi, hal ini ini terkait juga dengan keterbatasan sumberdaya yang lain, terutama lahan," imbuhnya. 

Oleh karena itu, SPI meminta pemerintah segera mengatasi kendala-kendala yang dialami petani kecil, baik kemudahan dalam mengakses KUR serta adanya kebijakan untuk jaminan harga dan pasar agar nasib petani kecil tidak semakin terjepit.

Video Terkait