Perubahan Iklim Buat Petani di Dunia Mulai Beralih Tanam Biji-bijian Kuno

Tanaman sorgum di Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Antara/Nikolas Panama)

Editor: Dera - Rabu, 5 Oktober 2022 | 08:00 WIB

Sariagri - Tanaman biji-bijian telah memberikan manfaat yang sangat besar bagi kebutuhan pangan manusia sampai saat ini. Namun dari ribuan spesies tanaman biji-bijian, hanya tiga tanaman yakni beras, gandum, dan jagung yang dibudidayakan manusia yang telah menyediakan hampir setengah dari kalori dunia.

Ketergantungan pada sejumlah kecil tanaman telah membuat pertanian rentan terhadap hama, penyakit bawaan tanaman, dan erosi tanah, karena praktik monokultur.

Menurut data FAO, setidaknya ada 6.000 spesies tanaman yang bisa dibudidayakan untuk makanan, namun kurang dari 200 spesies yang berkontribusi besar pada produksi pangan global, dan hanya 9 yang menyumbang 66% dari total produksi tanaman.

Jadi, masih banyak jenis tanaman biji-bijian yang belum dimanfaatkan, beberapa diantaranya dikenal sebagai tanaman biji-bijian kuno atau purba yang belum mengalami sentuhan industri makanan modern.

Saat dampak krisis atau perubahan iklim semakin parah, kini banyak petani di seluruh dunia beralih ke tanaman kuno itu dan mengembangkan hibrida baru yang mungkin terbukti lebih kuat dalam menghadapi kekeringan atau epidemi, sambil juga menawarkan nutrisi penting.

Beberapa jenis biji-bijian kuno yang kini mulai dikembangkan di antaranya jelai yang lebih umum dikenal, dieja, dan farro, hingga kamut, teff, dan sorgum yang kurang dikenal, serta millet. Ada juga chia, bulgur, pseudocereals, gandum Khorasan, dan freekeh serta masih banyak yang lain.

Tanaman biji-bijian kuno adalah kelompok biji-bijian dan sereal yang berasal dari zaman prasejarah. Tanaman ini tetap relatif utuh dan tidak tersentuh oleh industri makanan modern, terutama dibandingkan dengan varietas gandum dan jagung tertentu lainnya, demikian dilansir cleantechnica.com.

Keunggulan tanaman biji-bijian kuno

Mengapa kita harus mempertimbangkan makan biji-bijian kuno ini, sebab tanaman ini menawarkan nutrisi penting yang lebih tinggi daripada biji-bijian modern seperti jagung, beras, dan gandum. Biji-bijian kuno adalah sumber serat dan protein yang sangat baik. Beberapa biji-bijian kuno mengurangi obesitas melalui penurunan berat badan.

Biji-bijian kuno belum disempurnakan sehingga cenderung lebih tinggi protein, asam lemak omega-3, vitamin B, dan seng karena belum dihilangkan. Tanaman ini juga merupakan sumber serat yang baik. Selain itu biji-bijian kuno juga memberikan konsistensi dan rasa yang luar biasa pada produk.

Pasar biji-bijian kuno

Pasar biji-bijian kuno global diperkirakan mencapai 496 juta dolar AS pada tahun 2021, dan diperkirakan akan mencapai 6796 juta dolar AS pada tahun 2028, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CARG) sebesar 36,6% dari 2022-2028.

Pemain terkemuka di pasar biji-bijian kuno global termasuk Ardent Mills, Snyer's-Lance Inc., Crunchmaster Inc., SK Food International, Purely Elizabeth Inc., Quinoasure Inc., Great River Organic Milling Inc., Urbane Grain Inc., Nature's Path Food, dan Great Food GFB.

Permintaan pasar biji-bijian kuno tetap tinggi karena kebutuhan akan makanan sehat dan organik terus meningkat. Tanaman biji-bijian kuno juga lebih baik untuk lingkungan karena umumnya tidak memerlukan pupuk, pestisida, atau irigasi khusus. Hal ini menarik bagi konsumen yang lebih memilih produk organik, sehingga mendorong pasar biji-bijian kuno.

Baca Juga: Perubahan Iklim Buat Petani di Dunia Mulai Beralih Tanam Biji-bijian Kuno
Inilah Ladang Hidroponik Air Asin Pertama di AS



Biji-bijian kuno selain untuk bahan pangan juga digunakan dalam produk kosmetik, industri medis, dan obat-obatan.

 

Video Terkait