Tantangan Kian Berat, Revolusi Pertanian Keempat Telah Dimulai

Ilustrasi drone untuk bidang pertanian. (pixabay/ DJI-Agras)

Editor: Dera - Rabu, 5 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Sektor pertanian setidaknya telah mengalami tiga kali revolusi, dan saat ini sedang berjalan menuju revolusi keempat. 

Revolusi pertanian pertama ditandai dengan munculnya pertanian modern, revolusi kedua dimulai selama revolusi industri ketika rotasi tanaman diperkenalkan, dan revolusi ketiga saat awal penemuan pupuk sintetis dan teknik pemuliaan genetik untuk mempercepat produktivitas lahan pertanian.

Saat ini, sektor pertanian menghadapi banyak tantangan yang kompleks dan saling bergantung. Kondisi itu terjadi pada saat tuntutan terhadap pertanian semakin tinggi akibat pertumbuhan penduduk yang semakin cepat.

Melansir Verdict, sektor pertanian juga diharuskan mampu beradaptasi dengan dampak perubahan iklim karena peristiwa cuaca ekstrem akan menjadi lebih umum pada tahun 2030. Industri pertanian perlu mengadopsi teknologi modern guna mengatasi berbagai tantangan tersebut, di mana oleh beberapa orang disebut 'Revolusi Pertanian Keempat'.

Revolusi Teknologi Pertanian

Sektor pertanian perlu meningkatkan produktivitasnya untuk memaksimalkan output dan memenuhi permintaan konsumen yang terus berubah. Revolusi ini ditandai dengan perubahan yang dibawa oleh teknologi baru, terutama penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan robot otonom.

Teknologi itu dapat digunakan untuk memanen tanaman, memetik buah, menyiangi, memerah susu ternak, dan menerapkan pupuk secara mandiri. Teknologi modern tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan produktivitas pertanian melalui praktik pertanian yang lebih efisien. Contohnya, pertanian presisi melibatkan penerapan bahan kimia pertanian dan air secara tepat untuk meminimalkan limbah.

Pada tahun 2030, peningkatan konektivitas pedesaan dan kemajuan 5G akan menjadikan seluruh perangkat dalam ekosistem pertanian dapat terhubung, serta terus mengumpulkan dan menyimpan data pada sistem manajemen pertanian untuk operasi yang lebih efektif. Hal itu diharapkan dapat mengurangi kekurangan tenaga kerja, mengurangi jumlah sumber daya alam yang dibutuhkan, dan memenuhi permintaan produk pertanian yang terus meningkat, sambil beradaptasi dengan tantangan perubahan iklim.

Rumah Kaca 

Pertanian akan menjadi lebih pintar karena teknologi modern membantu menghasilkan lebih banyak makanan di lahan yang lebih sedikit. Pertanian cerdas menggabungkan teknik pertanian presisi yang menggunakan sensor dan pencitraan untuk memantau dan memaksimalkan produksi pangan.

Otomatisasi dan Internet of Things/IoT untuk menciptakan iklim mikro dapat diatur secara otomatis, sehingga kondisi lingkungan tanaman berjalan secara mandiri. Pertanian juga mengumpulkan dan memantau sejumlah besar data dari operasi mereka, yang akan dimasukkan ke AI untuk mengotomatisasi pertumbuhan tanaman.

Prinsip-prinsip itu akan diterapkan pada sistem pertanian vertikal, di mana tanaman ditanam di pertanian dalam ruangan bertumpuk sehingga lebih banyak makanan yang ditanam per hektare. Karena 60% populasi akan menjadi perkotaan pada tahun 2030, membangun pertanian ini di kota-kota akan membantu menghilangkan jarak makanan sambil mempertahankan kesegarannya.

Menurut GlobalData, pertambahan rumah kaca yang cerdas telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 2021. Kemajuan AI mengurangi kebutuhan intervensi manusia, sementara investasi tetap diperlukan karena pertanian cerdas menuntut lebih banyak otomatisasi

Drone

Drone pertanian merupakan kendaraan udara tak berawak yang digunakan untuk optimalisasi dan pemantauan hasil budidaya. Pada tahun 2022, drone pertanian mampu memeriksa dan menilai indeks vegetasi tanaman untuk menentukan kesehatan tanaman, tahap panen, dan tingkat nitrogen tanah. Informasi itu membantu untuk menerapkan input pertanian secara presisi berdasarkan kebutuhan tanaman.

Menurut GlobalData, paten terkait agri-drone mengalami peningkatan 14 kali lipat antara tahun 2015 dan 2021. Pada 2030, paten tersebut akan menjadi otonom dan modular. Inovasi berbasis modular berarti drone dapat melakukan penyemprotan tanaman dan pemantauan tingkat lanjut. Selain itu, drone pertanian juga akan didukung oleh konektivitas pedesaan yang lebih besar dan regulasi yang lebih spesifik.

Baca Juga: Tantangan Kian Berat, Revolusi Pertanian Keempat Telah Dimulai
Kala Cina Mulai 'Kepincut' Teknologi Pertanian AS

Tantangan Revolusi Pertanian Keempat

Meskipun terdapat banyak kemajuan menggembirakan, sektor pertanian modern akan tetap menghadapi beberapa tantangan dalam penerapannya. Misalnya, operator pertanian harus melek digital dan memahami cara terbaik memanfaatkan teknologi pertanian, dan banyak petani mungkin masih ragu untuk mengadopsi teknologi baru.

Para petani harus lebih sadar dunia maya karena peningkatan jumlah perangkat yang terhubung ke ekosistem pertanian membuatnya rentan terhadap serangan dunia maya. Ketergantungan pada rantai pasokan makanan membuat pertanian menjadi target yang menarik bagi penjahat dunia maya. Jadi, meskipun teknologi modern mungkin menjadi jawaban untuk meningkatkan sektor pertanian, masih akan ada rintangan untuk pertanian masa depan di tahun 2030.

Video Terkait