Demi Ketahanan Pangan, Cina Akan Terus Jaga Jenis Tanah Ini

Ilustrasi tanah. (Foto: Unsplash)

Editor: Reza P - Senin, 3 Oktober 2022 | 12:00 WIB

Guna menjaga ketahanan pangan nasional, China akan selalu memberikan perhatian khusus terhadap kesuburan tanah hitam di wilayahnya. Beijing juga akan terus menggunakan teknologi canggih, mulai dari penginderaan jauh hingga data besar, untuk secara efektif melindungi sumber daya tanah hitam, seperti diberitakan China Daily.

China memiliki sekitar 1,09 juta kilometer persegi tanah hitam, menyumbang 12 persen dari total global. Sebagian besar tanah hitam dunia terletak di Amerika Serikat, Ukraina, dan Argentina.

Tanah hitam China menghasilkan sekitar seperempat dari hasil biji-bijiannya. Tanaman itu sebagian besar terdiri atas beras, jagung, dan kedelai.

Direktur Institut Geografi dan Agroekologi Timur Laut dari Akademi Ilmu Pengetahuan China , Jiang Ming, menyebut tanah hitam sebagai panda tanah subur karena sangat penting bagi ketahanan pangan. Namun setelah beberapa dekade, degradasi tanah menjadi tantangan besar bagi lumbung gandum China.

Tanah hitam China menjadi lebih miskin, lebih tipis, dan lebih padat,” ujarnya, mengacu pada hilangnya nutrisi organik, hilangnya kesuburan tanah dan erosi, serta kompresi akibat penggunaan mesin pertanian yang berat.

Peneliti dari Institut Ilmu Tanah Akademi Ilmu Pengetahuan China, Zhang Jiabao, mengatakan bahwa tujuan konservasi tanah hitam adalah untuk memastikan kesuburan dan produktivitasnya.

Negara kita memiliki 1,4 miliar orang untuk diberi makan. Kita harus melindungi tanah yang subur dan membuatnya berkelanjutan sehingga anak-anak kita memiliki makanan untuk dimakan,” imbuhnya.

Bulan lalu, undang-undang tentang konservasi tanah hitam diberlakukan untuk menjaga keamanan pangan dan melindungi ekosistem.

Dalam beberapa tahun terakhir, Akademi Ilmu Pengetahuan China telah melakukan penelitian besar-besaran untuk mengevaluasi dan mengatasi degradasi tanah hitam, menciptakan varietas tanaman baru dan peralatan pertanian yang dapat memastikan keberlanjutan dan produktivitas tanah subur tersebut.

Upaya itu menghasilkan penemuan dan terobosan dalam konservasi dan penggunaan tanah hitam, memperkuat posisi China sebagai pemimpin dalam penelitian tanah hitam global sejak tahun 2021.

Salah satu pencapaian penting adalah penjabaran mekanisme degradasi tanah hitam, yang mengarah pada praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan di zona percontohan di Provinsi Liaoning, Jilin, dan Heilongjiang.

Selain itu, para ahli agronomi menciptakan varietas kedelai baru dengan kandungan minyak dan protein tinggi, yang adaptif, berdaya hasil tinggi, serta tahan terhadap kondisi salin dan basa. Varietas tersebut merupakan bagian dari kedelai seri Dongsheng, dan telah ditanam di lebih dari 3,33 juta hektare lahan di seluruh Provinsi Heilongjiang.

Sementara di bagian timur wilayah otonomi Mongolia Dalam, para insinyur mengembangkan mesin pertanian otonom besar yang disebut T300 yang dipandu oleh data satelit penginderaan jauh dan kecerdasan buatan.

Baca Juga: Demi Ketahanan Pangan, Cina Akan Terus Jaga Jenis Tanah Ini
Menilik Sejarah Celurit Madura dari Alat Bertani Menjadi Simbol Perlawanan

Meskipun memiliki roda besar dan bingkai hampir 6 meter yang terlihat seperti persilangan antara kumbang lapis baja dan truk monster, beratnya kurang dari mesin standar, sehingga pemadatan tanah lebih sedikit.

Kendaraan itu mampu menanam, bertani, dan memanen secara otonom, sambil mengumpulkan sejumlah besar data lingkungan untuk evaluasi ilmiah dan pengambilan keputusan.

Video Terkait