Banyak Petani Kecil Tak Bisa Nikmati KUR: Masalah Klasik Tanpa Solusi

Petani Kesulitan Air, dan Tidak Ada Biaya untuk membeli BBM. (Sariagri/Yongki)

Editor: Reza P - Minggu, 2 Oktober 2022 | 09:00 WIB

Sariagri - Implementasi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) pada kenyataannya masih belum bisa dinikmati para petani kecil. Hal ini dikarenakan masih banyak petani yang bisa memenuhi ketentuan administrasi perbankan. Kendala inilah yang membuat petani kecil kian sulit untuk berkembang di Indonesia. 

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, menilai kondisi sulitnya petani kecil mengakses KUR sudah terjadi cukup lama. Namun selama ini belum ada solusi perbaikan untuk mengatasi masalah tersebut.

Pada kenyataannya di lapangan memang banyak pelaku sektor pertanian yang bisa menerima KUR, namun mereka adalah petani off farm bukan petani kecil yang secara langsung menggarap lahannya. Andreas dengan tegas mengungkapkan bahwa KUR tidak akan sampai kepada petani kecil jika tidak ada langkah taktis dari pemangku kebijakan. 

"Kurang dari 1 persen petani kecil yang mampu mengakses KUR. Lalu KUR (dinikmati) oleh siapa? Ya petani, tetapi yang off farm," papar Andreas dalam diskusi Polemik: Waspada Resesi Ekonomi dan Krisis Pangan, Sabtu (1/10). 

Andreas menambahkan jika hampir semua petani kecil unbankable alias tidak memiliki rekening bank. Ketidakpahaman serta minimnya informasi menjadi penyebab para petani kecil tidak tersentuh dengan permodalan. Hal ini sangat kontras dengan petani besar yang mampu memenuhi seluruh persyaratan untuk mengakses KUR.

Baca Juga: Banyak Petani Kecil Tak Bisa Nikmati KUR: Masalah Klasik Tanpa Solusi
Peneliti IPB: Pengembangan Benih Petani Kecil Perlu Jadi Perhatian

“KUR memang tersalurkan, tetapi tidak menyentuh mereka yang berada di lapisan terbawah dengan optimal. Karena KUR itu harus mengikuti prinsip perbankan yang tidak mungkin diikuti petani kecil," ujarnya. 

Kondisi ini hingga kini belum ada solusi konkrit untuk mengatasinya dan pastinya akan menjadi efek domino kedepannya untuk sektor pertanian.

“Sehingga terdapat ancaman semakin sedikit orang yang bersedia menjadi petani,” tutupnya.

Video Terkait