Sebelum Bangun Pabrik, Petani Daerah Ini Dilatih Buat Pupuk

Ilustrasi Pupuk Petani. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 30 September 2022 | 20:45 WIB

Sariagri - Rencana pembangunan pabrik pupuk telah digembar-gemborkan Pemkab Jember sejak lama. Tahun 2023 menjadi target untuk mengawalinya.

Sebelum benar-benar direalisasikan, berbagai tahap persiapan dilakukan guna menyiapkan sumber daya manusia (SDM) petani. Mulai dari sosialisasi hingga pelatihan.

Bupati Jember Hendy Siswanto menjelaskan bahwa sejak kebijakan pemerintah pusat mengurangi jatah pupuk bersubsidi, tidak dapat terelakkan petani banyak yang kelimpungan karena jumlahnya dibatasi. Harga pupuk nonsubsidi pun mahal untuk dijangkau petani rakyat.

Menanggapi hal itu, ia mulai meminta petani untuk beralih pada pupuk organik. Dia menyatakan, pemkab melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Jember akan membangun pabrik pupuk organik.

“Insyaallah tahun 2023 Pak Imam (Kepala Dinas DTPHP) ini akan membuat pabrik pupuk,” ungkap Hendy kepada para petani saat tasyakuran dan salawatan memperingati Hari Tani Nasional.

Menurutnya, pembangunan pabrik pupuk organik, tidak sert-merta langsung dilakukan. Sebelum rencana itu dikonkretkan, ia meminta kepada petani untuk berlatih membuat pupuk sendiri.

Dengan mendorong petani untuk perlahan beralih ke pupuk organik, juga sebagai upaya pengurangan penggunaan pupuk kimia.

Senada, Kepala Dinas DTPHP Jember Imam Sudarmaji mengatakan bahwa pihaknya tengah melakukan sosialisasi penggunaan pupuk organik. Diiringi dengan pelatihan dengan sekolah petani untuk pembuatan pupuk sebagai bentuk peningkatan SDM.

“Tahun ini, kelompok tani sudah dilatih sekolah lapang pembuatan pupuk organik,” terangnya.

Upaya meyakinkan petani terus dilakukan oleh Pemda Jember. Imbauan pembuatan pupuk secara mandiri dan kemudian diaplikasikan ke tanaman diharapkan petani melihat hasilnya sendiri. Namun, dia menambahkan, pengalihan penggunaan pupuk anorganik ke organik yang diminta tidak langsung seratus persen.

“Bisa dikombinasi di awal, pupuk organik 50 persen dan anorganik 50 persen,” paparnya.

Sejumlah percobaan juga dilakukan di lapang untuk mengetahui efektivitas dari pengombinasian pupuk. Dia menceritakan hasil produksi padi yang telah dilakukan oleh kelompok tani Tirta Bakti Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung.

Usai dilakukan pelatihan dan edukasi penggunaan kombinasi pupuk, dilaporkan hasilnya cukup memuaskan. Sebelumnya hasil panen enam ton itu, bisa meningkat menjadi delapan ton.

Kabar baik itu membuat pihaknya optimistis akan pengembangan pupuk organik di Jember. Salah satu tujuannya, kata Imam, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Baca Juga: Sebelum Bangun Pabrik, Petani Daerah Ini Dilatih Buat Pupuk
Cegah Penyebaran Covid-19, Petani Cina Hadapi Krisis Pupuk

Imam mengatakan, pabrik nantinya akan memproduksi pupuk berbentuk granula dan cair, agar lebih efisien. Seperti yang selama ini dikeluhkan petani bahwa penggunaan pupuk organik sangat sulit dalam pengangkutan ke lahan pertanian karena dibutuhkan dalam jumlah besar. Dari situ, kemudian akan dianalisis kembali pupuk organik granula atau cair yang lebih diterima petani.

Pabrik rencananya dibangun di Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan, dengan anggaran sekitar Rp 4 miliar. Untuk kapasitas produksinya sendiri, dia mengaku masih belum bisa memprediksi. Sebab, untuk keberlanjutannya masih menunggu respons dan antusiasme petani untuk membeli.

Video Terkait