FAO Minta Konflik Diredam Agar Tidak Menjadi Krisis Pangan

Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), QU Dongyu (Kementerian Pertanian)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Reza P - Kamis, 29 September 2022 | 13:30 WIB

Sariagri - Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), QU Dongyu mengatakan Konflik serta perlambatan dan penurunan yang dipicu oleh krisis menjadi pendorong utama terjadinya krisis pangan. Ia menyoroti pentingnya mencapai perdamaian, mengatasi krisis iklim, dan meningkatkan ketahanan di berbagai tempat. Hal itu ia sampaikan saat Pertemuan Menteri Pertanian G20, di Bali, Rabu (28/9).

“Dampak kemanusiaan, sosial dan ekonomi dari konflik selalu besar. Perdamaian adalah prasyarat untuk ketahanan sistem pertanian pangan di tingkat nasional dan internasional,” kata Qu, dalam keterangannya

Ia mencatat bahwa melonjaknya harga pangan konsumen akan memiliki implikasi yang buruk bagi ketahanan pangan dan gizi global. “Harga pangan sangat tinggi bagi konsumen dan harga input sangat tinggi bagi petani,” tambahnya.

Direktur Jenderal FAO mencatat ada beberapa perkiraan yang lebih baik untuk pasar gandum dan kedelai, tetapi prospek untuk jagung, beras dan pupuk tetap mengalami kendala pasokan dan tidak stabil.

Qu memuji Inisiatif Butir Laut Hitam (Black Sea Grain Initiative), yang memfasilitasi ekspor dari Federasi Rusia dan Ukraina di tengah perang yang berkecamuk, sebagai langkah maju yang penting. Ia menambahkan bahwa ini perlu dilengkapi dengan peningkatan akses pangan bagi negara-negara yang paling rentan.

FAO telah mengusulkan Fasilitas Pembiayaan Impor Pangan (Food Import Financing Facility/FIFF) untuk memungkinkan 62 negara net food importer berpenghasilan rendah yang berpenduduk kurang lebih 1,8 miliar orang untuk mendanai kebutuhan mendesak sambil berkomitmen untuk berinvestasi lebih banyak dalam sistem pertanian pangan berkelanjutan di dalam negeri mereka.

Adopsi proposal tersebut yang kini diambil alih oleh Dana Moneter Internasional (IMF) akan menawarkan upaya cepat untuk meningkatkan ketahanan sistem pertanian pangan dalam jangka pendek, kata Qu. Tindakan jangka pendek lainnya termasuk meningkatkan ketersediaan pupuk dengan memastikan pupuk tidak masuk dalam daftar sanksi perang  dan efisiensi penggunaannya.

“Kita perlu menghindari agar krisis akses pangan tidak berkembang menjadi krisis ketersediaan pangan,” jelas Qu.

Ke depan, ia menyampaikan solusi jangka menengah yang mengedepankan ilmu pengetahuan dan inovasi, investasi dalam infrastruktur untuk mengurangi ketidaksetaraan, serta upaya mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan. Kemudian strategi jangka panjang dapat melibatkan peningkatan sistem peringatan dini dan tindakan dini untuk meningkatkan produktivitas, meningkatkan perdagangan, dan menemukan solusi inovatif untuk mengatasi kendala pasokan pupuk anorganik.

Inovasi Digital

Direktur Jenderal FAO juga menggaris bawahi sesi khusus G20 yang membahas bagaimana pertanian digital dapat mendorong kewirausahaan pertanian yang inovatif serta meningkatkan mata pencaharian petani dan warga di daerah pedesaan.

Baca Juga: FAO Minta Konflik Diredam Agar Tidak Menjadi Krisis Pangan
PDB Sektor Pertanian RI Tumbuh di Masa Pandemi, FAO Berikan Apresiasi

Teknologi digital dapat meningkatkan efisiensi, memfasilitasi inovasi, serta menciptakan pasar pangan, pertanian, dan perdagangan yang lebih efisien dan inklusif. Qu menyebut Platform Geospasial Hand-in-Hand FAO sebagai kontribusi yang dapat membantu meningkatkan penargetan investasi, serta memastikan sumber daya dialokasikan secara tepat dan berdampak luas.

Qu juga menyoroti Inisiatif 1000 Desa Digital FAO, yang menunjukkan bagaimana e-commerce dan teknologi digital lainnya dapat meningkatkan mata pencaharian pedesaan.

Video Terkait