Jeritan Petani: BBM Naik, Pupuk Mahal, UU Cipta Kerja Bikin Cemas

Ilustrasi petani organik. (Wikimedia)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Dera - Minggu, 25 September 2022 | 20:00 WIB

Sariagri - Serikat Petani Indonesia (SPI) secara tegas menolak Undang-undang Cipta Kerja. Pasalnya, dalam UU tersebut tak hanya buruh yang menjadi persoalan, tetapi juga para petani ikut menderita.

"Petani juga menjadi menderita karena inti dari UU omnibus law adalah penguasaan lahan untuk kepentingan pembangunan proyek-proyek infrastruktur atas nama proyek strategi dan proyek pembangunan nasional," katanya Sekretaris Umum SPI Agus Ruli saat demonstrasi di kawasan Patung Kuda Jakarta, Sabtu (24/9).

Dalam aksi unjuk rasa itu, Rusli juga menuntut untuk menjalankan reforma agraria dan kedaulatan pangan. Ia menyampaikan pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin sudah berjanji akan meredistribusi 9 juta hektare.

Baca Juga: Jeritan Petani: BBM Naik, Pupuk Mahal, UU Cipta Kerja Bikin Cemas
Petani di NTB Keluhkan Pengurangan Jatah Pupuk

"Kenyataannya sampai saat ini masih sangat minim, persoalan redistribusi, pelaksanaan reforma agraria, penyelesaian konflik masih sangat minim realisasi. Kita mengalami penggusuran terhadap perjuangan-perjuangan petani yang menuntut haknya terhadap hal atas tanah," jelasnya.

Selain menolak UU Cipta Kerja, SPI juga meminta pemerintah menurunkan harga BBM, sebab harga BBM saat ini mempengaruhi hasil panen petani.

"Pupuk mahal, traktor mahal, tanah tidak ada, jaminan harga pun tidak ada kepastian yang jelas," keluhnya.

Video Terkait