Hari Tani Nasional 2022, Generasi Muda Bisa Apa?

Alat pertanian cangkul (Wikimedia)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Reza P - Sabtu, 24 September 2022 | 16:00 WIB

Sariagri - Hari Tani Nasional dirayakan setiap tanggal 24 September, terutama oleh para petani di seluruh Indonesia. Tanggal 24 September pun ditetapkan sebagai pengingat bahwa pada tanggal itu di tahun 1960 lalu, Presiden pertama RI Soekarno menetapkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960).

Pada peringatan Hari Tani Nasional ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian RI tentunya telah membuat sejumlah program kegiatan yang inovatif dan kreatif setiap tahunnya dengan tujuan meningkatkan perekonomian di Indonesia. Lantas, muncul pertanyaan, apakah produksi sudah memenuhi target yang dicanangkan sebelumnya? Kemudian apakah sektor pertanian Indonesia sudah mampu untuk menciptakan pertanian berbasis ramah lingkungan?

Pertanian Ramah Lingkungan

Petani milennal asal Kuningan, Jawa Bara Didi Kurniasandi menyampaikan para petani khususnya generasi muda tengah mencoba untuk menerapkan pertanian yang ramah lingkungan. Sebab, menurutnya jika tidak menerapkan konsep itu, maka pertanian bisa memberi dampak buruk terhadap lingkungan.

"Mari kita sebagai anak muda harus mempunyai dasar ilmu pertanian yang berkelanjutan agar bisa berdampak terhadap masa depan. Selain berfikir produksi, harus juga berfikir terhadap lingkungan sekitar," kata Didi kepada Sariagri, Sabtu (24/9).

Melihat peluang yang besar, Didi mengajak para generasi muda untuk terjun ke bidang pertanian seiring dengan permintaan pangan dan jumlah penduduk yang terus bertambah. Menurutnya, Indonesia sudah memiliki modal baik berupa sumber daya alam yang sangat kaya.

"Kita sebagai generasi muda yang mempunyai daya dobrak, kreatif dan inovatif harus mampu mengelola sumber daya alam yang ada agar negara kita dapat bersaing dengan negara lain. Pemerintah pun sudah mensupport dengan berbagai program yang tujuannya untuk regenerasi petani, dan mari kita mendukung juga menjadi pertanian yang maju, mandiri, dan modern di negeri tercinta ini," terangnya.

Ia mengaku bahwa sektor pertanian masih menghadapi sejumlah masalah, salah satunya adalah pemasaran produk. Namun, ia percaya generasi milenial mampu mendobrak perosalan tersebut dengan berbagai cara yang mengikuti perkembangan zaman saat ini.

"Kita sebagai generasi milenial yang mempunyai daya kreatif harus mampu menanggulanginya, misalnya dengan cara digital marketing menggunakan media sosial. Karena media sosial merupakan alat promosi yang efektif dan murah sekali," jelasnya.

"Selamat hari tani nasional, semoga semakin banyak agent of change dalam bidang pertanian khusunya dari generasi milenialnya. Salam petani milenial," tambahnya.

Pertanian Hulur ke Hilir

Sektor pertanian tak melulu bicara soal teknik budidaya, lebih jauh dari itu bidang satu ini juga perlu mementingkan kegiatan hulu hingga hilir.

Petani milenial lainnya, Muzakki Lazuardy mengatakan untuk mencapai pertanian yang menyeluruh dari hulu ke hilir, diperlukan inovasi dan karya dari petani terutama generasi muda.

"Generasi muda harus terus berinovasi dan berkarya untuk kemajuan pertanian khususnya dalam negeri, dengan berbagai cara dari hulu hingga hilir lingkup pertanian. Pertanian itu luas, jadi jangan sampai kaum milenial berpikiran sempit tentang sektor pertanian," ucapnya kepada Sariagri.

Menurutnya, kemajuan sektor pertanian akan sangat dipengaruhi oleh semangat dan pemikiran anak muda yang diikuti dengan adanya dukungan pemerintah bagi kemajuan sektor pertanian

"Di era modern ini, semua kalangan harus lebih memikirkan keadaan pertanian di Indonesia, karena satu dua orang saja tidak akan berpengaruh nyata pada keadaan pertanian kita," tandasnya.

Video Terkait



Baca Juga: Hari Tani Nasional 2022, Generasi Muda Bisa Apa?
Peran Generasi Muda dalam Pertanian Tak Bisa Dianggap Remeh