Hari Tani Nasional, Kondisi Pangan Nasional Sedang Tidak Baik-baik

Petani padi di Lebak, Banten genjot produksi pangan. (Antara)

Editor: Yoyok - Sabtu, 24 September 2022 | 12:00 WIB

Sariagri - Menyambut Hari Tani Nasional yang jatuh pada 24 September 2022, laman www.ipb.ac.id menayangkan artikel berjudul “Menuju Hari Tani Nasional 2022, Guru Besar IPB University: Sudah Sejahterakan Petani dan Keberlanjutan Pangan Lokal?”

Disebutkan, Indeks Ketahanan Pangan Indonesia berada di urutan terbawah dalam tiga tahun terakhir terus menurun. Di tahun 2019, Indeks Ketahanan Pangan Indonesia berada di posisi 62, sedangkan pada tahun 2020 anjlok ke peringkat 113. Posisi ini nomor satu dari bawah.

Menurut Prof Dwi Andreas Santosa, Guru Besar IPB University dari Fakultas Pertanian (Faperta) hal itu mengherankan karena Pemerintah Indonesia sempat diberikan penghargaan oleh International Rice Research Institute (IRRI) terkait dengan pangan dan pertanian, khususnya Pati.

“Jadi kita sebenarnya menghadapi persoalan yang sangat serius. Natural resources and resilience ini menjadi hal penting untuk bagaimana kita mampu mencukupi kebutuhan pangan di masa yang akan datang,” ujarnya yang dikutip dari Webinar Pangan Lokal, Agroekologi, dan Tantangan Keberlanjutan untuk Kesejahteraan Petani oleh FIAN Indonesia, beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, kondisi produksi padi selama 20 tahun terakhir memiliki dua data. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), produksi padi terlihat selalu meningkat tiap tahunnya. Sedangkan rangkuman data dari berbagai sumber dan teknologi terbaru seperti citra satelit dan data internasional menunjukkan hasil yang berbeda. Data produksi yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementan di saat yang sama menunjukkan perbedaan yang signifikan hingga 40 persen.

“Berdasarkan data tersebut, pertumbuhannya hanya 0,67 persen per tahun, tidak mampu menyamai pertumbuhan penduduk yang mencapai 1,4 persen. Pada pemerintahan sebelumnya, pertumbuhan padi terbantu oleh iklim, terutama tahun 2007-2010 mengalami La Nina empat tahun berturut-turut. Sehingga terjadi peningkatan produksi yang cukup tajam,” ungkap Prof Dwi Andreas.

Kepala Biotech Center IPB University itu menambahkan, selama masa pemerintahan saat ini pertumbuhan produksi padi justru menurun 0,35 persen. Bahkan selama tiga tahun terakhir, Indonesia sempat mengalami iklim La Nina atau musim kemarau basah. Namun tidak mampu meningkatkan produksi padi.

“Jadi bisa dibayangkan bahwa kondisi (pangan) kita sebenarnya tidak baik-baik saja,” kritiknya terkait penghargaan dari IRRI.  

Namun, sebut Prof Dwi, bila dilihat dari perkembangan harga gabah kering panen di tingkat petani selama tiga tahun terakhir, trennya terus mengalami penurunan. Baru dalam dua bulan terakhir terjadi lonjakan yang cenderung tajam, menurut data survei Asosiasi Pendidikan Teknologi Tani Indonesia.

“Apakah ini yang menjadi penyebab produksi padi kita, terutama di pemerintahan saat ini justru menurun, apakah karena petani kita jadi malas menanam padi? Ini yang menjadi bahaya,” imbuhnya.

Prof Dwi kemudian mengungkapkan, perkembangan volume impor juga kian meningkat dalam tempo 10 tahun untuk delapan komoditas utama. Walau produksi padi tidak terlalu mencukupi, namun kebutuhan pangan masih terpenuhi akibat kebijakan gandum. Yakni kebijakan yang menggeser beras digantikan oleh gandum. Sumbangsih gandum terhadap pangan pokok ini diperkirakan di tahun 2050 akan memiliki proporsi hingga 50 persen.

“Beras bukan tergantikan oleh pangan lokal, tapi gandum. Sedangkan gandum 100 persen impor, ini isu besar terkait ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia ke depan,” tuturnya.

Baca Juga: Hari Tani Nasional, Kondisi Pangan Nasional Sedang Tidak Baik-baik
Mentan Dorong Mahasiswa Bantu Masyarakat Kembangkan Diversifikasi Pangan

Selain itu, kata Prof Dwi, pendapatan terendah juga dimiliki oleh buruh tani, sehingga generasi petani selanjutnya semakin terpuruk. Kondisi petani tidak membaik selama 50 tahun terakhir. Penggunaan lahan oleh sedulur tani juga kerap mengalami kerugian, apalagi luas lahan semakin sempit.

“Jumlah petani menurun pasti, namun di Indonesia jumlah petani kecil di tingkat rumah tangga semakin meningkat. Antara ketahanan pangan dan kedaulatan pangan saling bertolak belakang dari sisi konsep dan ideologi. Yang seharusnya diperjuangkan adalah pertanian rakyat atau rumah tangga dan agroekologi,” pungkasnya.

Video Terkait