Dunia Diambang Kelaparan, Pupuk Sulit Produksi Pertanian Semakin Menurun

Seorang petugas memeriksa kerusakan padi akibat kekeringan. (Xinhua/Yang Wenbin)

Editor: Reza P - Sabtu, 24 September 2022 | 09:00 WIB

Sariagri - Masih berkecambuknya Perang Rusia dan Ukraina, pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, inflasi yang terus meningkat dan perubahan iklim telah menyebabkan lebih dari 300 juta orang hidup di ambang kelaparan.

Kondisi ini membuat pupuk semakin sulit untuk diproduksi dan diekspor ke sejumlah negara produsen produk pangan. Negara-negara di Afrika dan Asia kian kesulitan menanam tanaman pangan sehingga hasil panen terus berkurang seiring waktu.

Direktur Eksekutif Progam Pangan Dunia PBB, (WFP) David Beasley pada kantor berita Associated Press di Taman Mawar PBB di luar markas besar badan dunia itu di New York ketika berlangsung sidang umum ke-77 mengatakan, "Dunia memproduksi cukup makanan untuk setiap orang di planet ini, lebih dari 7,7 miliar orang. 50 persen dari makanan itu dihasilkan karena peran pupuk. Jadi kalau tidak ada pupuk, kita tidak bisa memanen hasil yang kita butuhkan.”

Baca Juga: Dunia Diambang Kelaparan, Pupuk Sulit Produksi Pertanian Semakin Menurun
Tebar Inspirasi! Para Petani Ini Berbagi Ilmu Pertanian Lewat Film Pendek

Perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang memperparah kondisi pangan dunia. Kekeringan mulai dirasakan sejumlah negara yang berakibat meningkatkan kelaparan di banyak negara.

“Kami melihat kekurangan produksi makanan senilai $11 miliar di Afrika saja. Sekarang, bicara tentang Amerika Tengah, Amerika Selatan, isunya sama, kekeringan. India hancur karena panas dan kekeringan, dan seterusnya,” papar Beasley.

Video Terkait