Pemerintah Dorong Rekayasa Genetik untuk Tingkatkan Produk Pertanian

Ilustrasi petani memanen padi. (ANTARA/Ali Khumaini)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Reza P - Rabu, 14 September 2022 | 13:30 WIB

Sariagri - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah mendorong genetically modified organism (GMO) atau produk rekayasa genetika untuk produk pertanian. Ia menyatakan, rekayasa genetik tidak hanya untuk jagung, tetapi juga beras dan kedelai.

"GMO bisa untuk semua produk pertanian. Bukan cuma jagung, tetapi beras dan termasuk kedelai. Ini yang kami kemarin dalam ratas (rapat terbatas) sudah meminta, karena ini hanya butuh peraturan dari Menteri Pertanian, sehingga kita akan terus dorong sehingga produktivitas terus meningkat," kata Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (13/9/2022).

Airlangga menjelaskan produktivitas jagung hanya 5-6 ton apabila menggunakan bibit biasa, namun dengan GMO bisa mencapai 12-13 ton. Ditambah lagi, produk pangan seperti kedelai yang diimpor umumnya menggunakan produk GMO.

“Ketahanan pangan bukan saja menjadi prioritas, tetapi target untuk kesejahteraan dan pemerataan,” ujarnya.

Dorong Diversifikasi Pangan Lokal

Oleh karenanya, pemerintah juga mendorong diversifikasi pangan lokal guna menurunkan ketergantungan dari impor gandum.

“Hampir 25 persen kebutuhan masyarakat sudah meningkat untuk noodle dan roti, yang perlu kita lakukan diversifikasi, salah satunya mencoba menanam untuk sorgum, kedua mendorong penanaman tapioka untuk makanan dan ketiga pemanfaatan kembali tepung sagu untuk kue kue. Tentu kita berikan insentif untuk hal-hal tersebut,” kata Airlangga.

Sementara itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mencatat, konsumsi beras di masyarakat turun, gantinya adalah konsumsi gandum, bukan pangan lokal.

Baca Juga: Pemerintah Dorong Rekayasa Genetik untuk Tingkatkan Produk Pertanian
Krisis Pangan Mengancam, HKTI: Pertanian RI Harus Inovasi Besar-besaran

"Pangan lokal turun, beras turun, kita semua tahu jawabannya, mi instant, itu cadangan pangan kita. Dan pertumbuhan impor gandum 16,5 persen per tahun. Itu jawabannya, diversifikasi pangan. Ini jadi catatan penting gimana menjawab isu kedepan," ujarnya.

IPB sendiri telah memiliki sejumlah teknologi untuk mendorong diversifikasi pangan. Akan tetapi, skalanya masih kecil dan butuh industri untuk turun tangan. Pemerintah bisa memberdayakan petani di desa untuk mengembangkan pangan lokal seperti gandum, jagung, sagu, dan sorgum.

Video Terkait