Ogah Terjebak Kekeringan Lagi, Cina Bakal Tingkatkan Infrastruktur Air

Ilustrasi waduk di Cina. (Pixabay/lyuqan)

Editor: Dera - Senin, 12 September 2022 | 21:00 WIB

Setelah gelombang panas mengeringkan sebagian besar wilayah cekungan Yangtze, Pemerintah Cina berencana meningkatkan infrastruktur air guna mengantisipasi dampak cuaca ekstrem bagi pertanian dan pembangkit listrik tenaga air.

Kekeringan yang berkepanjangan di Cina barat daya telah memperlihatkan kerentanan daerah-daerah yang bergantung pada tenaga air, seperti Sichuan yang mengalami penurunan permukaan air dan mengganggu pasokan listrik ke wilayah lain di Cina.

Dengan pasokan air per kapita yang hanya seperempat dari rata-rata global, Beijing juga khawatir tentang dampak curah hujan yang rendah pada panen musim gugur mendatang.

Infrastruktur air jangka panjang

Daerah yang dilanda kekeringan telah menggali sumur darurat serta mengerahkan petugas pemadam kebakaran dan pesawat penyemaian awan untuk mengairi tanaman. Cina juga berusaha beralih ke infrastruktur air jangka panjang yang lebih besar.

“Akibat cuaca ekstrem, serta memburuknya banjir dan kekeringan, kemampuan untuk menyimpan dan mentransfer air menjadi sangat penting, ujar seorang ahli dari Administrasi Meteorologi Cina, Mao Liuxi, seperti dikutip Reuters.

Kementerian Sumber Daya Air Cina telah menyetujui 25 proyek besar tahun ini, dengan total investasi 1,7 triliun yuan (sekitar Rp3.669 triliun).

Provinsi Hubei di Cina tengah yang terdampak kekeringan Sungai Yangtze, memulai pembangunan 18 proyek air raksasa pada Rabu (31/8) kemarin, dan berencana menghabiskan 176 miliar yuan (sekitar Rp380 triliun) selama 2021-2025.

Bulan lalu, Yunnan Cina barat daya juga mulai mengerjakan empat proyek penyimpanan air besar dengan investasi gabungan sebesar 211,8 miliar yuan (sekitar Rp457 triliun).

Cina mengandalkan proyek infrastruktur skala besar untuk mengendalikan sungai-sungainya. Bendungan Tiga Ngarai raksasa dirancang tidak hanya untuk menghasilkan listrik, tetapi juga untuk mengatur aliran Sungai Yangtze.

Beijing juga telah membangun Proyek Pengalihan Air Selatan-Utara, dengan saluran yang sekarang ada di Cina timur dan tengah untuk mengisi kembali wilayah utara yang gersang.

Dengan sekitar 80% pasokan energi Sichuan berasal dari tenaga air, kekeringan memaksa pihak berwenang untuk menutup industri dan menjatah tenaga listrik bagi rumah tangga.

Biro energi Cina mengatakan akan membangun lebih banyak infrastruktur jaringan dan mengembangkan sumber energi alternatif. Lembaga itu juga berjanji untuk mempercepat pembangunan lebih banyak bendungan di hulu Sungai Yangtze.

Secara teori, pembangunan lebih banyak pembangkit listrik tenaga air di hulu dapat membantu meratakan perubahan aliran air musiman.

Baca Juga: Ogah Terjebak Kekeringan Lagi, Cina Bakal Tingkatkan Infrastruktur Air
Jurus Jitu Cina Menyelamatkan Pertanian dari Hantaman Gelombang Panas

Cina menyimpan air dalam jumlah besar di waduk raksasanya, yang memiliki fungsi penting dalam membatasi kerusakan akibat banjir selama musim hujan. Namun cara itu tetap bergantung pada cuaca yang tidak dapat diprediksi.

Jika kamu mengantisipasi kekeringan, kamu ingin memiliki kapasitas air tertinggi. Akan tetapi untuk mengantisipasi banjir parah, kamu ingin memiliki ketinggian air terendah yang dapat kamu miliki,” jelas seorang Ahli Geografi dari Universitas Alabama yang mempelajari sistem air Cina, David Shankman.

Dia menambahkan, situasinya semakin rumit oleh kebutuhan untuk menahan air yang cukup untuk menghasilkan energi listrik.