Bikin Tanaman Rusak, Perubahan Iklim Tingkatkan Hama Ulat

Ilustrasi hama ulat. (pixabay)

Editor: Dera - Jumat, 9 September 2022 | 15:45 WIB

Sariagri - Perubahan iklim membuat jumlah hama yang merusak tanaman jagung, tomat dan tanaman lainnya meningkat. Para ilmuwan di North Carolina State University mengatakan bahwa hama ulat tanaman jagung adalah hama paling merugikan di Amerika Serikat (AS) dan tumbuh subur di cuaca yang hangat.

Mengutip laporan Study Finds, pemanasan global yang kini menyebar ke utara karena musim dingin yang lebih ringan, menjadi mimpi buruk bagi petani di lokasi beriklim sedang. 

Hama ulat makan banyak tanaman sayuran mulai dari kedelai hingga paprika, bahkan kapas. Pemerintah AS menghabiskan dana 1 miliar dolar AS per tahun untuk mengganti tanaman yang hancur.

“Ada anggapan yang terbentuk sebelumnya bahwa hama sedikit menghancurkan pada musim dingin di utara garis lintang 40 derajat,” kata salah seorang penulis studi Dr. Douglas Lawton dalam rilisnya.

Ulat merupakan hewan nokturnal yang memiliki panjang tubuh hingga 2,5 cm dan mampu bergerak jauh. Semakin panas suhunya, semakin jauh perjalanannya.

Penelitian hama ulat

Para peneliti menggabungkan data suhu tanah dengan pemantauan ulat jagung jangka panjang. Mereka juga menganalisis bagaimana ulat bertahan dalam kondisi dingin di laboratorium untuk lebih memahami bagaimana hama itu bertahan hidup di bawah tanah selama musim dingin. 

Baca Juga: Bikin Tanaman Rusak, Perubahan Iklim Tingkatkan Hama Ulat
Begini 7 Cara Menanam Kedelai yang Perlu Diketahui

Di Minnesota, daerah yang memiliki musim dingin yang keras, hama ulat tanaman jagung jarang berhasil melewati musim dingin dari 1950 hingga 2021. Namun, model prediktif menunjukkan bahwa daerah tersebut berangsur hangat. Hal tersebut mendorong risiko berkembangnya hama ulat.  

"Memahami apa yang terjadi dengan hama ini sangat penting bagi produsen pertanian. Kami menunjukkan di sini unsur ketidakpastian yang dapat memiliki efek nyata pada petani dan peluang baru yang berpotensi untuk seleksi resistensi pestisida," ungkap Anders Huseth, Asisten Profesor Entomologi di NC State.

 

Video Terkait