Melihat Jurus Pemerintah dalam Menghadapi Ancaman Krisis Pangan

Petani Wajo menggunakan alat mesin pertanian (Alsintan) memanen padi. (SariAgri/Usman Muin)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Kamis, 18 Agustus 2022 | 16:15 WIB

Sariagri - Pertanian menjadi salah satu sektor yang tumbuh di Indonesia selama pandemi Covid-19. Namun, ancaman perubahan iklim global terus terjadi, dimana cuaca ekstrem seperti hujan lebat, kekeringan, gelombang panas, dan badai tropis membuat proses tanam terganggu.

Ancaman krisis pangan dunia juga diperburuk dampak perang Rusia dan Ukraina, dua negara produsen dan eksportir komoditas utama dunia. Mulai dari minyak dan gas, pertambangan, hingga pangan banyak dihasilkan dari kedua negara tersebut.

Ketegangan yang terjadi di negara barat itu telah mengganggu proses produksi dan distribusi komoditas. Beberapa negara juga melakukan embargo terhadap produk-produk Rusia sebagai bentuk sanksi atas serangan yang dilakukan di Ukraina.

Sanksi itu dibalas oleh Rusia dengan moratorium sejumlah produk pangan dan produk energi. Salah satunya melarang ekspor pupuk sejak 4 Februari hingga 31 Agustus tahun ini. Begitu juga dengan pupuk nitrogen dilarang ekspor sejak 3 November 2021 hingga 31 Desember 2022. Padahal, hampir 30 persen kebutuhan pupuk dunia berasal dari Rusia.

Tak ayal hal ini membuat harga pupuk meroket. Keberadaannya sulit didapat. Akibatnya biaya produksi dan harga jual produk pangan ikut melonjak.

Presiden Joko Widodo sudah memberikan peringatan kepada masyarakat. Mengingatkan seluruh pihak hati-hati soal pangan. Mengingat ketidakpastian pasokan pangan terus meningkat di pasar global. Pada Januari 2022 sudah tiga negara menghentikan ekspor pangan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Pada pertengahan Juni 2022 jumlah negara yang menghentikan ekspor pangan meningkat menjadi 23 negara. Dimana tiap negara ingin menjaga stok pangan guna memenuhi kebutuhan domestik.

Jokowi mengajak masyarakat untuk menanam berbagai jenis tanaman pangan di lahan-lahan telantar. Seruan ini untuk memitigasi dampak negatif tekanan rantai pasok komoditas pangan di pasar global.

"Saya hanya ingin titip, sampaikan kepada masyarakat, pada rakyat bahwa yang namanya sekarang ini jangan sampai ada lahan yang terlantar tidak ditanami apa-apa," kata Presiden Jokowi, pada bulan Juni 2022.

Strategi Pemerintah Hadapi Krisis Pangan

Dalam menghadapi ancaman krisis pangan, Pemerintah memiliki lima strategi untuk menjaga ketahanan pangan. Pertama dengan meningkatkan kapasitas produksi pangan.

Dalam hal ini Kementan tengah mengembangkan lahan rawa di Kalimantan Tengah untuk dijadikan lahan pertanian. Lahan tersebut digunakan untuk meluaskan area lahan padi, cabai, bawang merah dan sebagainya.

Kedua, pemerintah melakukan strategi diversifikasi pangan lokal untuk makanan pokok. Maksudnya, upaya mengajak masyarakat memberikan variasi bahan makanan pokok yang dikonsumsi agar tidak terfokus hanya pada satu jenis pangan.

Misalnya mengganti nasi dengan ubi kayu, sagu, pisang, kentang dan sorgum. Ketiga, penguatan cadangan dan sistem logistik pangan. Keempat, pengembangan pertanian modern dan kelima, gerakan tiga kali ekspor.

Taksi Alsintan untuk Pertanian Masa Depan

Sebuah bentuk nyata program untuk mengatasi krisis pangan yang dibuat Kementerian Pertanian yakni Taksi Alsintan. Taksi Alsintan merupakan program penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) secara mandiri oleh pelaku usaha.

Selain itu, program Taksi Alsintan bertujuan untuk membantu meningkatkan luas tanam, meningkatkan indeks pertanaman (IP), meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani, menekan kehilangan hasil dan meningkatkan mutu dan nilai tambah produk pertanian.

Masuk memperluas kesempatan kerja di pedesaan dengan terciptanya agribisnis terpadu. Sehingga pada akhirnya akan memacu kegiatan ekonomi di pedesaan.

Tujuan utama lainnya meningkatkan pendapatan petani atau rumah tangga petani melalui pengelolaan alsintan dengan mekanisme jasa sewa dan pinjam pakai. Pola ini diawali dengan kebutuhan petani terhadap alsintan untuk efisiensi sistem usaha pertanian. Sehingga pada tahap akhir akan berbuah komersialisasi usaha pertanian.

Program ini didukung dengan fasilitas bantuan kredit usaha rakyat (KUR) dengan pemberian subsidi bunga dari pemerintah. Masyarakat dapat memanfaatkan KUR untuk pembiayaan usaha tani mulai dari hulu hingga hilir.

Menteri Syahrul mengatakan, program Taksi Alsintan ini direalisasikan agar petani dapat dengan cepat beradaptasi dengan era industri 4.0 yang mengedepankan mekanisasi dan inovasi teknologi.

"Dalam era sekarang ini, petani harus beradaptasi dengan era 4.0. Dan program Taksi Alsintan ini mendekatkan petani dengan mekanisasi dan inovasi teknologi," tutur Mentan.

Di Indonesia, penggunaan teknologi di bidang pertanian baru berkembang tujuh tahun terakhir ini. Banyak petani yang sudah mengganti sapi dan kerbau untuk mengolah tanah dengan mesin yang dinilai lebih efisien.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil mengatakan, program taksi alsintan dilakuakn agar petani bisa cepat berinovasi dan beradaptasi dalam pengelolaan pertanian, mulai dari olah tanah sampai panen. Sehingga bisa mendorong anak muda saat terjun ke sektor pertanian.

Taksi Alsintan juga hadir sebagai terobosan dalam membantu petani untuk mengadakan pembelian alsintan dengan kredit ringan. "Dengan menggunakan KUR Pertanian, petani dapat membeli alsintan yang diperuntukkan membantu mengembangkan budidaya pertanian dari hulu hingga hilir," ujar Ali.

Pada awal 2022, Kementerian Pertanian telah menyalurkan KUR Taksi Alsintan di Sumatera Selatan dan Jawa Barat. Kemudian berlanjut ke Provinsi Jawa Timur. Program ini difokuskan untuk wilayah dengan zona hijau.

Wilayah zona hijau merupakan wilayah yang berpotensial dan daerah sentra utama produksi padi nasional. Tujuannya agar masyarakat mampu mengadakan alat mesin pertanian sendiri. Sehingga petani tidak lagi bergantung pada bantuan pemerintah yang disalurkan melalui APBN.

Baca Juga: Melihat Jurus Pemerintah dalam Menghadapi Ancaman Krisis Pangan
Bantuan Alsintan dari Kementan Mulai Buahkan Hasil di Daerah Ini

"Saya yakin program ini bisa berhasil karena tanpa kita dorong petani sudah mulai merasakan bahwa alsintan ini sangat kita butuhkan. Ini yang terjadi di Jawa Timur," tutur Ali.

Taksi alsintan dapat diperoleh petani dengan bantuan pemerintah melalui APBN dan bantuan perbankan berupa KUR. Sehingga program ini bisa menghasilkan keuntungan yakni jaminan keberlanjutan alsintan dan menjadi sumber pendapatan dari usaha jasa sewa alsintan yang dikelola.

Video Terkait