Geopolitik Tak Stabil, Ini Jurus Cina Antisipasi Risiko Keamanan Pangan

Ilustrasi gandum (Pixabay)

Editor: Dera - Senin, 15 Agustus 2022 | 08:00 WIB

Sariagri - Cina dilaporkan telah mengambil langkah-langkah efektif untuk menanggapi risiko ketahanan pangan global yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 dan konflik geopolitik.

Kepala Departemen Pengembangan dan Perencanaan Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan Cina,  Zeng Yande, mengatakan pandemi dan konflik geopolitik telah mempengaruhi produksi dan pasokan pertanian global serta menciptakan masalah struktural yang menonjol dalam sistem perdagangan.

Beberapa negara mengambil langkah-langkah untuk membatasi ekspor biji-bijian dan produk pertanian yang mempengaruhi ketahanan pangan regional dan global,” ujar Zeng, seperti dikutip Nation Thailand.

Sebuah pernyataan bersama yang dipimpin oleh Bank Dunia dikeluarkan baru-baru ini untuk menyerukan tindakan segera guna mengatasi krisis ketahanan pangan global.

Pembangunan Pertanian

Cina telah meningkatkan kapasitas produksi untuk memastikan pasokan pangan melalui pembangunan lahan pertanian berkualitas tinggi dan percepatan inovasi pemuliaan.

Ketersediaan biji-bijian per kapita tahun lalu mencapai 483 kilogram, jauh lebih tinggi dari standar ketahanan pangan global. Berdasarkan sumber daya domestik, Cina telah memecahkan masalah pangan seperlima populasi dunia, sangat berkontribusi terhadap ketahanan pangan global, jelas Zeng.

Sementara itu, Cina juga membantu negara-negara berkembang yang lebih rentan terhadap krisis pangan untuk meningkatkan produksi biji-bijian dan ketahanan pangan melalui berbagai proyek termasuk Program Kerjasama Selatan-Selatan Cina-FAO.

Seorang pejabat di Departemen Pasar dan Informatisasi Kementerian Pertanian Cina, Liu Han, mengatakan kenaikan harga kedelai dan minyak nabati karena terbatasnya pasokan kedelai dan terbatasnya ekspor minyak bunga matahari buatan Ukraina telah mengakibatkan tingginya harga minyak global.

Akibatnya, harga domestik juga naik. Bulan lalu, harga kedelai impor setelah pajak di provinsi Shandong naik menjadi 5,5 yuan (sekitar Rp12 ribu) per kilogram, meningkat 14,7 persen tahun-ke-tahun. Harga minyak nabati dan minyak rapeseed juga meningkat 30 persen.

Namun, pasokan minyak nabati domestik dipastikan dan telah mengalami kenaikan harga yang lebih kecil daripada di pasar global berkat penyimpanan minyak negara yang melimpah dan peningkatan produksi rapeseed, katanya.

Zeng mengatakan telah terjadi ekspansi yang luar biasa pada kedelai dan tanaman penghasil minyak dengan hasil tahun ini mencapai rekor tertinggi.

Baca Juga: Geopolitik Tak Stabil, Ini Jurus Cina Antisipasi Risiko Keamanan Pangan
Kala Ketangguhan Pangan Indonesia Diakui Dunia

Saat ini juga terdapat lebih dari 1 juta hektare tanaman jagung dan kedelai gabungan, dan budidaya kedelai diperkirakan akan meningkat pesat.

Cina berharap panen gandum musim gugur akan melimpah dan menyumbang sekitar 75 persen dari hasil gandum tahunan. Di mana area penanaman diperkirakan akan meningkat dan pertumbuhan di Cina timur laut menghasilkan sepertiga dari gandum musim gugur, lebih baik dari tahun-tahun normal karena curah hujan yang melimpah dan kelembaban tanah yang baik.

Video Terkait