Petani Asal Prancis Budidaya Tanaman Tanpa Air, Pupuk atau Pestisida

Petani asal Prancis, Marc Mascetti membudidayakan tanaman tanpa air, pupuk, dan pestisida. (Twitter)

Editor: M Kautsar - Kamis, 11 Agustus 2022 | 13:00 WIB

Sariagri - Seorang tukang kebun pasar Prancis dengan sebidang tanah di luar Paris telah berbagi bagaimana dia mengelola buah dan sayurannya tanpa menggunakan irigasi, pupuk atau pestisida.

Petak tanah liat seluas 17 hektare milik Marc Mascetti di Marcoussis (Essonne) – seperti hampir di semua tempat di Prancis – sangat kering akibat kekeringan yang melanda seluruh negeri.

Namun, ia masih berhasil menanam labu, kacang-kacangan, tomat, bawang, dan banyak lagi, dengan mengatakan kepada Franceinfo, “Mereka mengalami kekeringan dan (tiga) gelombang panas dan mereka tidak mati!”

Mascetti menambahkan bahwa sayuran adalah “98 persen air”, dan rahasianya adalah memelihara mereka dengan kelembapan yang ditemukan di bawah permukaan tanah.

Dia mengatakan permukaannya kering, tetapi setelah dua atau tiga sentimeter kamu menemukan gumpalan tanah. Ini berarti ada kesegaran, kelembaban di tanah saya.

“Kami sudah tiga generasi di sini, tanpa air,” katanya dikutip dari Connexion France, Kamis (11/8/2022), seraya menambahkan bahwa ia telah menggali hingga kedalaman 115 meter dan masih belum menemukan air tanah.

Oleh karena itu, Mascetti mulai menyiapkan tanah di musim dingin, membiarkan gulma tumbuh, mencampurnya dengan sampah organik dari panennya dan mengubur campuran itu di bawah tanah untuk dimakan oleh cacing.

“Mikroorganisme akan mengubah semua yang saya kubur menjadi pupuk dan bahan organik lembab, yang dapat digunakan tanaman,” katanya.

Kemudian, ketika ada curah hujan, ia bekerja membalik tanah sehingga kelembaban permukaan terperangkap di bawah tanah. “Kita harus mencoba membuat (tanaman) mengerti bahwa kita tidak akan memberi mereka apa pun untuk diminum dari permukaan dan memaksa mereka untuk membentuk sistem akar yang masuk jauh di bawah tanah.”

Mascetti juga mengatakan kepada Le Parisien, “Kami telah memberikan (tanaman) pupuk, air, pestisida [...] kami telah membuat mereka malas, tidak berani. Kalau haus beri air, kalau lapar beri makan, kalau sakit dirawat, kalau diserang serangga dibunuh. (Tapi) sayuran harus tahu bagaimana mengatasinya sendiri,” ujar dia.

Mascetti mengatakan bahwa sayuran adalah makhluk hidup. Semakin manusia membantunya, semakin membuat tanaman malas, kata dia.

“Begitu kamu memberi air pada tanaman, kamu akan mengencerkan rasanya. Ini seperti sirup, grenadine: jika kamu menambahkan sedikit air, itu sangat manis, jika kamu menambahkan banyak air, itu tidak manis.”

“Sayuran yang tidak diberi air akan tetap kecil tapi akan pekat. Ini akan bergizi. Lebih baik menghasilkan sedikit tetapi baik daripada menghasilkan banyak dan membuang setengahnya.”

Bukan solusi universal

Mascetti mencatat bahwa metodenya tidak akan berhasil di semua tempat di Prancis, terutama di selatan atau di mana tanahnya lebih berpasir.

“Masalahnya (air) turun terlalu cepat, sementara di tanah liat yang dibajak airnya tidak masuk. Kami tahu dan kami melakukannya karena itu tanah kami, tetapi setiap penggarap harus tahu tanah mereka," ucap dia.

Mascetti juga menyarankan bahwa bahkan di tanah berpasir, petani harus lebih memikirkan berapa banyak bantuan yang mereka berikan untuk tanaman mereka. “Selama lebih dari 40 tahun sekarang kami telah mengetahui bahwa iklim akan berubah, akan semakin panas, dan kami tidak berusaha mencari solusi,” katanya.

“Satu-satunya cara adalah memahami bagaimana alam dapat berkembang tanpa air, dan merupakan tanggung jawab kita untuk memahami, meneruskannya, dan mengulangi prosesnya setiap tahun.”

Video Terkait