Ancaman Perubahan Iklim Kian Nyata, Petani Indonesia Harus Bagaimana?

Ilustrasi - Kekeringan dampak perubahan iklim.(Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 9 Agustus 2022 | 15:30 WIB

Sariagri - Organisasi Pangan Dunia (FAO) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengingatkan kepada para pemimpin dunia akan ancaman krisis pangan. Salah satunya datang dari perubahan iklim yang kini kian terasa.

Presiden Joko Widodo tak luput melihat permasalahan perubahan iklim ini. Ia menilai suhu terpanas terjadi pada 7 tahun terakhir, lantas Indonesia harus mewaspadainya karena ini sangat erat dengan ketahanan pangan ke depan.

"Kita hadapi tantangan perubahan iklim yang berada pada kondisi yang kritis. World Meteorological Organization menyatakan indikator perubahan iklim dan dampaknya di tahun 2021 makin memburuk, di mana 7 tahun terakhir telah jadi 7 tahun dengan suhu terpanas," kata Jokowi dalam pembukaan rakornas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Perubahan iklim menjadi 'hantu' bagi para petani usaha kecil yang memproduksi lebih dari 80 persen sumber pangan dunia. Mereka menjadi kelompok yang paling rentan, karena usaha tani sangat tergantung dengan iklim dan cuaca.

Ilustrasi - Kekeringan dampak perubahan iklim.(Pixabay)
Ilustrasi - Kekeringan dampak perubahan iklim.(Pixabay)

Dampak Perubahan Iklim ke Petani

Sektor pertanian begitu dekat dengan kondisi alam, sebut saja El Nino yang merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normal. Sementara itu ada La Nina, fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.

"Yang pasti, usaha tani itu tergantung pada iklim dan cuaca. Perilaku iklim dan cuaca berpengaruh besar terhadap usaha tani apakah akan berhasil atau tidak. secara umum, dampak El Nino lebih memukul pertanian ketimbang La Nina. Riset dalam jangka penjang menunjukkan, La Nina justru meningkatkan produksi sejumlah komoditas pangan, salah satunya padi," ujar Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori kepada Sariagri, Selasa (9/8/2022).

Yang menakutkan lagi, menurut Khudori El Nino justru menurunkan produksi pertanian. Bisa dipastikan, dari tahun ke tahun makin besar, sebagai contoh ketika Indonesia kian sering 'panen' bencana, terutama bencana geologi dan hidrometerologi.

"Mestinya kegagalan atau penurunan panen juga sering kita tuai. Karena bencana itu juga ada yang menimpa lahan-lahan pertanian," tambahnya.

BMKG Harus Gencar Gaungkan Perilaku Iklim/Cuaca ke Petani

Baru-baru ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan pertanian untuk menentukan kalender tanam berdasarkan informasi cuaca. Langkah ini guna mengawal para petani agar tepat menyusun perencanaan tanam.

Khudori yang juga merupakan anggota Pokja Dewan Ketahanan Pangan, menilai data yang disampaikan BMKG terkait cuaca atau iklim sudah bagus. Sayangnya, informasi yang ada belum bisa secara maksimal diimplementasikan.

"BMKG sebenarnya membuat perkiraan perilaku iklim/cuaca, baik harian, mingguan maupun bulanan. Akurasinya makin baik. Perkiraan perilaku iklim/cuaca itu dikirimkan ke Dinas-dinas Pertanian di seluruh Indonesia. Masalahnya, apakah informasi iklim/cuaca ini sampai ke tangan pengguna? Jika pun sampai ke tangan pengguna, apakah informasi iklim ini berguna? Apakah mereka bisa menerjemahkan menjadi informasi pola tanam misalnya. Dalam konteks ini, penting sekali peran sekolah lapang iklim," paparnya.

"BMKG itu gak punya aparat sampai ke daerah. Yang harus menerjemahkan informasi iklim/cuaca supaya lebih berdayaguna ya instansi pengguna: Pertanian, penerbangan, penyeberangan dll

Baca Juga: Ancaman Perubahan Iklim Kian Nyata, Petani Indonesia Harus Bagaimana?
Petani Tambak di Surabaya Keluhkan Hal Ini

Khudori menambahkan, petani sendiri belum bisa memahami manfaat informasi iklim/cuaca. Pasalnya, para pegiat lahan pertanian ini memiliki umur yang tidak muda, mereka hanya menanam dengan cara ala kadarnya.

"Secara umum petani tak bisa menerjemahkan informasi iklim/cuaca itu apa manfaatnya bagi mereka. Petani harus diajari, misalnya, menerjemanhkan informasi iklim/cuaca jadi informasi pola tanam. Kalau tiga bulan ke depan hujan yang turun deras (dengan ukuran milimeter tertentu), pola tanam apa yang tepat agar tidak gagal. Petani kita sudah tua-tua dan pendidiknya rendah. Tapi mereka cerdas, harus diajari," pungkasnya.

Video Terkait