Harga Gandum Turun, Efek Ekspor Ukraina Redakan Pasokan Global

Tanaman gandum di sebuah pertanian (Pixabay)

Editor: Yoyok - Senin, 8 Agustus 2022 | 11:00 WIB

Sariagri - Harga gandum berjangka Chicago turun untuk sesi kedua, Senin (8/8) pagi, karena tekanan dari ekspektasi ekspor biji-bijian yang lebih tinggi dari Ukraina, meredakan kekhawatiran atas pasokan global.

Sedangkan harga jagung melemah, jatuh untuk pertama kali dalam empat sesi, sementara harga kedelai bergerak lebih tinggi, meski peningkatan produksi Amerika Serikat dan melemahnya permintaan China membatasi kenaikan.

Reuters melaporkan harga kontrak gandum yang paling aktif di Chicago Board of Trade (CBOT) turun 0,32 persen menjadi 773,25 dolar AS per bushel (gantang). Jagung berjangka Chicago menyusut 0,37 persen menjadi 607,75 dolar AS per bushel dan kedelai menguat 0,18 persen menjadi 1.411,25 dolar AS per bushel.

Wakil Menteri Pertanian Ukraina mengatakan Ukraina dapat mulai mengekspor gandum dari panen tahun ini dari pelabuhan lautnya pada September di bawah kesepakatan penting yang ditengahi oleh Turki dan PBB.

Empat kapal lagi yang membawa hampir 170.000 ton jagung dan bahan makanan lainnya berlayar dari pelabuhan Laut Hitam Ukraina, Minggu, di bawah kesepakatan untuk membuka blokir ekspor negara itu.

PBB dan Turki menengahi kesepakatan bulan lalu setelah peringatan bahwa penghentian pengiriman biji-bijian yang disebabkan konflik tersebut dapat menyebabkan kekurangan pangan yang parah dan bahkan wabah kelaparan di beberapa bagian dunia.

Rusia akan menurunkan perkiraan ekspor biji-bijian pada musim Juli-Juni 2022/23 dari saat ini 50 juta ton jika panennya gagal mencapai target 130 juta ton, ungkap Kementerian Pertanian, Jumat.

Laju panen di Rusia, eksportir gandum terbesar di dunia, saat ini lebih lambat dari perkiraan pemerintah karena musim semi yang dingin menyebabkan keterlambatan, serta hujan dan kurangnya suku cadang bagi peralatan pertanian yang diimpor.

Baca Juga: Harga Gandum Turun, Efek Ekspor Ukraina Redakan Pasokan Global
Jagung Turun ke Level Terendah 8 Bulan, Efek Kekhawatiran Pasokan Mereda

Perkiraan produksi yang lebih tinggi dan berkurangnya permintaan China membebani kedelai.

Perusahaan analitik swasta, IHS Markit Agribusiness, memperkirakan produksi kedelai 2022 sebesar 4,530 miliar bushel, dengan hasil rata-rata 51,8 bushel per hektare. Ekspektasi hasil dan produksi lebih besar dari perkiraan Juli dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA).

Kemarin, impor kedelai China pada Juli anjlok 9,1 persen dari tahun sebelumnya karena margin yang buruk dan konsumsi yang lebih lemah di pembeli oilseed terbesar dunia itu mengurangi selera untuk pengiriman. Bea Cukai China menunjukkan telah membeli 7,88 juta ton biji minyak pada Juli, dibandingkan 8,67 juta ton tahun sebelumnya.

Video Terkait