Geliat Petani Milenial Asal Bali Kembangkan Pertanian di Era Digital

Ilustrasi teknologi pertanian. (pexels)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Dera - Jumat, 29 Juli 2022 | 15:45 WIB

Sariagri - Beberapa tahun belakangan ini dunia pertanian memang semakin diminati oleh anak muda. Tentunya dengan perencanaan yang tepat serta pengelolaan yang baik, usaha pertanian bisa menjadi bisnis yang menjanjikan. Seperti halnya yang dilakukan oleh I Nengah Sumerta, pria asal Pulau Bali satu ini.

Nengah yang juga menjabat sebagai CEO di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Petani Muda Keren mengungkapkan alasan awal dirinya terjun ke dunia pertanian.

"Kenapa terjun itu saya punya alasan sendiri, pertama saya memang lahir dan besar dari keluarga petani. Jadi memang kesehariannya bertani," ujar Nengah dalam Webminar Petani Muda di Era Digital, Kenapa Tidak?, Jumat (29/7).

"Kemudian saya ambil sekolah dan bekerja dan lain sebagainya, tapi kemudian bertemu lagi nih dengan situasi-situasi yang membuat saya berpikir bahwa ini pertanian Indonesia memang harus diurusin gitu," sambungnya.

Sebelum terjun ke pertanian, Nengah memang sempat bekerja di sebuah sekolah internasional. Kala itu, ia sempat bekerja selama 7 tahun keliling Bali untuk untuk mencari orang yang akan diberi beasiswa. Selama bekerja, ia justru banyak melihat kasus-kasus di pertanian dimana para petaninya tidak sejahtera.

"Kami menemukan bahwa ada banyak kasus-kasus di pertanian di mana orang punya tanah dan airnya bagus tapi petaninya gak sejahtera. Jadi banyak sekali pertanyaan di kepala, apa sih permasalahan terbesar kita di bidang pertanian?" ucapnya.

Nengah mengatakan bahwa pasar di Bali untuk komditas pangan besar. Menurutnya ada sekitar 20 juta orang di Bali perlu dikasih makan. Sementara sudah menjadi rahasia umum jika 80 persen pasokan bahan konsumsi justru datang dari luar Bali.

"Jadi saya pikir kenapa bukan orang bali atau temen-temen yang punya lahan ini yang harus mengelola pertanian ini. Sebetulnya lahan juga banyak yang belum terolah secara maksimal," katanya.

Komoditas yang Ditanam

Nengah menyampaikan bahwa pertanian yang ada di Petani Muda Keren menanam hampir seluruh komoditas yang tersedia di Bali. Mulai dari komoditas yang dapat tumbuh di 10 mdpl-1700 mdpl pun mereka dikelola.

"Kami di petani muda keren itu ada tanam padi, hortikultura, tanaman buah, atsiri dan sebagainya. Jadi komoditas yang kita kerjakan itu benar-benar hampir saya bilang all range sampai ke biji-bijian pun kita kerjakan," tuturnya.

Pertanian Digital

Nengah bersama Petani Muda Keren pun mencoba menciptakan perspektif yang berbeda terkait dunia pertanian. Salah satu caranya adalah dengan melek dunia digital.

Baca Juga: Geliat Petani Milenial Asal Bali Kembangkan Pertanian di Era Digital
Ogah Gengsi, Pemuda Ini Mengaku Bangga Jadi Petani Sayuran di Desa

"Jadi kami fokusnya itu adalah Small Integrated Farming atau pertanian skala kecil terintegrasi menggunakan pertanian pintar. Kenapa pertanian lingkup kecil? karena rata-rata di Bali orang paling banyak punya lahan 1 hektar, tapi 90 persennya hanya memiliki lahan sekitar 150-200 meter," ucapnya.

"Pertanian terintegrasi itu bagaimana menciptakan kemandirian. Rata-rata petani kami juga bekerja sebagai peternak, sehingga dia punya bahan pupuk dan menciptakan pupuk sendiri. Sehingga tidak ketergantungan pupuk," pungkasnya.

Video Terkait