Mengupas Pentingnya Pupuk Organik bagi Masa Depan Pertanian RI

Ilustrasi padi. (Foto: Pixabay)

Editor: Dera - Kamis, 28 Juli 2022 | 13:30 WIB

Penggunaan pupuk kimia secara masif tanpa diimbangi pupuk organik akan menyebabkan permasalahan lingkungan salah satunya yaitu pencemaran tanah. Di samping itu harga pupuk kimia yang kian melambung berimplikasi pada biaya produksi petani.

Seiring meningkatnya tren pasar yang mendorong produsen untuk mengembangkan pertanian organik serta permintaan konsumen pada produk pertanian organik, tentu penggunaan pupuk organik perlu ditingkatkan.

Namun hal ini diperparah oleh adanya kebijakan Pemerintah yang berangkat dari usulan Panitia Kerja (Panja) Pupuk Subsidi Komisi IV DPR RI, di mana pupuk organik dikeluarkan dari salah satu daftar pupuk subsidi dan menyisakan pupuk NPK dan Urea.

Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB University, Prof. Edi Santosa mengatakan bahwa tanpa adanya pupuk organik akan berdampak pada kandungan C-organik pada lahan, khususnya lahan padi sawah. Seperti diketahui, produktivitas padi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan beras nasional sekaligus menjaga ketahanan pangan. 

“Terutama lahan padi sawah, beberapa lahan sudah menunjukkan rendahnya kandungan C-organik dalam tanah. C-organik tanah sawah minimal 2 persen agar kesuburan biologis tanah bagus,” ujarnya kepada Sariagri, Kamis (28/7).

Prof Edi menjelaskan bahwa kandungan C-organik pada tanah juga menjadi indikator tanah yang sehat. Menurutnya, kandungan tersebut bisa menjadi larutan penyangga (buffer) pada tanah agar terhindar dari kekeringan.

“C-organik tanah juga menjadi indikator tanah yang sehat, karena bisa menjadi buffer dari kekeringan yang ekstrem dan juga membantu melancarkan penyediaan hara nutrisi bagi tanaman,” jelasnya.

Dia menyebutkan bahwa pupuk organik dapat menjadi salah satu pengganti dalam menjaga C-organik tanah memadai. Sebenarnya, kata dia, jerami padi sudah cukup mempertahankan C-organik tanah, namun saat ini banyak pihak yang memanfaatkan jerami tersebut sebagai pakan ternak.

“Jadi kalau lahan kekurangan C-organik dan jeraminya tidak dikembalikan, tentu kehadiran pupuk organik sangat penting,” terangnya.

Lebih lanjut Prof Edi mengungkapkan bahwa petani dapat membuat pupuk organiknya sendiri, yang bersumber dari berbagai limbah.

“Petani sebenarnya bisa membuat pupuk organik sendiri, bisa bersumber dari pupuk kandang, pembuatan kompos, dan sebagainya. Jadi kemampuan petani untuk membuat pupuk organik sendiri menjadi sangat penting,” imbuhnya.

“Pupuk organik itu bukan untuk menggantikan pupuk kimia. Pupuk organik adalah suplemen untuk menjaga agar C-organik tanah tetap sehat,” tambahnya.

Terkait penghapusan pupuk organik dari daftar pupuk subsidi oleh pemerintah, Prof Edi berpesan agar dana tersebut bisa dialihkan untuk memperkuat kapasitas petani dalam membuat pupuk organik mandiri.

“Ini juga bisa diintegrasikan dengan pengelolaan sampah di masyarakat, misalnya sampak organik dipisahkan lalu diproses maka bisa sangat produktif ya,” tandasnya.

Melansir pertanian.magelangkota.go.id , Berikut Cara Membuat Pupuk Organik.

1.  Limbah ternak (pupuk kandang)

Usaha ternak akan menghasilkan produk utama seperti daging dan telur, namun limbah dari ternak tersebut dapat menghasilkan produk samping yaitu limbah ternak baik limbah padat maupun cair atau yang lebih dikenal dengan pupuk kandang.

Salah satu teknologi yang dapat diaplikasikan untuk membuat pupuk organik dengan cepat yakni teknologi bokashi. Ini merupakan salah satu pengolahan limbah ternak menggunakan dekomser berupa EM4 agar proses dekomposisi lebih cepat.

Teknologi mengolah limbah ternak dengan teknologi bokashi menggunakan bahan–bahan seperti pupuk kandang 300 kg, tetes 10 sendok makan, dedak 10 kg, sekam padi 10 kg, EM4 200 ml, dan air 20 liter/secukupnya.

Langkah-langkah yng harus dilakukan:

  • Timbang semua bahan yang diperlukan sesuai ukuran
  • Campurkan katul, pupuk kandang, sekam padi diaduk secara merata hingga terbentuk adonan
  • Campurkan tetes, air dan EM4 hingga homogen
  • Siram adonan pupuk kandang, katul dan sekam dengan larutan air, EM4 dan tetes dengan rata, dengan catatan penyiraman tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering atau dengan kata lain kondisi remah (adonan bisa kepal dan bila adonan dilepas adonan berkembang/mekar)
  • Setelah selesai penyiraman lalu adonan ditutup karung goni/terpal dan difermentasi/diperam selama 1 minggu
  • Selama proses pemeraman dikontrol suhunya (tidak boleh lebih dari 50-60%) dan bila suhu lebih dari 50-60% maka adonan dibuka dan adonan diaduk-aduk lagi, setelah selesai adonan ditutup lagi.
  • Proses pemeraman selesai setelah 1 minggu yang ditandai kondisi bokashi secara fisik berwarna hitam dan remah dan bokashi siap di packing atau dipakai untuk pupuk di lapangan.

2. Limbah pertanian

Hasil dari pertanian tentu akan menghasilkan limbah yang lebih bermanfaat apabila di olah menjadi pupuk organik sebagai penyumbang unsur hara bagi tanah. Salah satu limbah pertanian yang berpotensi di jadikan pupuk organik adalah jerami padi.

Mengolah jerami padi menjadikan pupuk organik dengan teknologi bokashi menggunakan bahan–bahan berupa jerami 200 kg, tetes 10 sendok makan, dedak 10 kg, sekam padi 10 kg, EM4 200 ml, air 20 liter/secukupnya.

Langkah-langkah yang harus dilakukan: 

  • Timbang semua bahan yang diperlukan sesuai ukuran
  • Lalu jerami dicatah kecil-kecil dengan maksud untuk memudahkan pengadukan
  • Campurkan katul, pupuk kandang, jerami, sekam padi diaduk secara merata hingga terbentuk adonan
  • Campurkan tetes, air dan EM4 hingga homogen
  • Siram adonan pupuk kandang, katul dan sekam dengan larutan air, EM4 dan tetes dengan rata, dengan catatan penyiraman tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering atau dengan kata lain kondisi remah (adonan bisa kepal dan bila adonan dilepas adonan berkembang/mekar)
  • Setelah selesai penyiraman lalu adonan ditutup karung goni/terpal dan difermentasi/diperam selama 1 minggu, g). Selama proses pemeraman dikontrol suhunya(tidak boleh lebih dari 50-60%) dan bila suhu lebih dari 50-60% maka adonan dibuka dan adonan diaduk-aduk lagi, setelah selesai adonan ditutup lagi
  • Proses pemeraman selesai setelah 1 minggu yang ditandai kondisi bokashi secara fisik berwarna hitam dan remah dan bokashi siap di packing atau dipakai untuk pupuk dilapangan.


Campuran pupuk kandang dan arang sekam

Selain dari limbah hewan ternak dan pertanian, pupuk organik dari bahan campuran pupuk kandang dan arang sekam juga layak diaplikasikan oleh para petani sebagai salah satu cara mendapatkan pupuk organik.

Baca Juga: Mengupas Pentingnya Pupuk Organik bagi Masa Depan Pertanian RI
Mengapa Petani Pilih Pupuk Kimia daripada Organik?

Bahan–bahan yang dibutuhkan yaitu pupuk kandang 300 kg, tetes 10 sendok makan, dedak 10 kg, arang sekam padi/serbuk gergaji 10 kg, EM4 200 ml, air 20 liter/secukupnya. Sementara alat yang digunakan adalah timbangan, termometer, gembor, karung goni/terpal, ember plastik.

Langkah-langkah yang harus dilakukan:

  • Timbang semua bahan yang diperlukan sesuai ukuran
  • Campurkan katul, pupuk kandang, arang sekam/ serbuk gergaji diaduk secara merata hingga terbentuk adonan
  • Campurkan tetes, air dan EM4 hingga homogen
  • Siram adonan pupuk kandang, katul dan sekam dengan larutan air, EM4 dan tetes dengan rata, dengan catatan penyiraman tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering atau dengan kata lain kondisi remah (adonan bisa kepal dan bila adonan dilepas adonan berkembang/mekar)
  • Setelah selesai penyiraman lalu adonan ditutup karung goni/terpal dan difermentasi/diperam selama 1 minggu
  • Selama proses pemeraman dikontrol suhunya (tidak boleh lebih dari 50-60%) dan bila suhu lebih dari 50-60% maka adonan dibuka dan adonan diaduk-aduk lagi, setelah selesai adonan ditutup lagi
  • Proses pemeraman selesai setelah 1 minggu yang ditandai kondisi bokashi secara fisik bertwarna hitam dan remah dan bokashi siap di packing atau dipakai untuk pupuk dilapangan.

Video Terkait