Mengapa Petani Pilih Pupuk Kimia daripada Organik?

Pupuk kompos. (Antara)

Editor: Putri - Rabu, 27 Juli 2022 | 22:00 WIB

Sariagri - Para petani Indonesia menghadapi aturan baru terkait pengurangan subsidi pupuk Indonesia. Jika sebelumnya terdapat empat pupuk yang disubsidi, sekarang hanya dua jenis pupuk yang disubsidi yaitu urea dan NPK.

Terbatasnya pupuk subsidi membuat petani didorong untuk turut menggunakan pupuk organik. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mengajak para petani untuk meningkatkan penggunaan pupuk yang dibuat secara mandiri alias pupuk organik.

Mengutip jurnal berjudul Pupuk Organik, Peluang dan Kendalanya oleh Suharwaji Sentana, penggunaan pupuk organik sudah lama dikenal oleh para petani Indonesia. Bahkan para petani hanya mengenal pupuk organik.

Hingga akhirnya terdapat gebrakan revolusi hijau, Indonesia menggalakkan program intensifikasi pertanian dengan BIMAS/INMAS-nya menggunakan benih unggul, pupuk dan pestisida kimia.

Penggunaan pupuk kimia dinilai berhasil karena Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan, khususnya pangan pada 1984. Produksi dan penjualan pupuk kimia, terutama urea cenderung naik saat itu.

Kurang Kepercayaan terhadap Pupuk Organik

Sejak revolusi hijau, pupuk kimia lebih dipilih karena terdapat anggapan bahwa pupuk organik membuat hasil tani kurang produktif. Anggapan tersebut turun menurun hingga saat ini.

Alasan lain banyak petani enggan menggunakan pupuk organik adalah karena tidak bisa digunakan dalam jumlah sedikit. Mengutip situs resmi Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, para petani harus menggunakan pupuk hingga berton-ton untuk kebutuhan satu hektare lahan, tergantung pada kondisi tanah dan jenis tanaman yang akan ditanam.

Banyaknya jumlah pupuk yang dibutuhkan sering membuat petani kesulitan mencari penyuplai pupuk organik dalam jumlah besar. Penggunaan yang dilakukan dalam jumlah besar dilakukan karena kandungan unsur hara di dalam pupuk tidak begitu banyak.

Baca Juga: Mengapa Petani Pilih Pupuk Kimia daripada Organik?
Sejarah Pupuk Organik, Andalkan Sampah dan Kotoran untuk Tanaman yang Subur

Untuk memenuhi kebutuhan seluruh unsur hara tanaman, jumlah yang digunakan harus besar. Selain itu, cukup sulit menentukan unsur hara yang ada di dalamnya dengan takaran pemupukan.

Penggunaan pupuk organik juga dinilai tidak praktis karena harus menggunakan berjumlah besar dan kotor. Oleh sebab itu, petani enggan menggunakan pupuk organik.

Video Terkait