Sejarah Pupuk Organik, Andalkan Sampah dan Kotoran untuk Tanaman yang Subur

Ilustrasi petani organik. (Wikimedia)

Editor: Putri - Rabu, 27 Juli 2022 | 16:20 WIB

Sariagri - Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mengurangi jenis subsidi pupuk. Jika sebelumnya terdapat empat pupuk yang disubsidi, sekarang hanya dua jenis pupuk yang disubsidi yaitu urea dan NPK.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Ali Jamil, mengatakan bahwa pembatasan pupuk subsidi dilakukan sabagai dampak kenaikan harga pupuk dunia akibat perang Rusia-Ukraina.

Selain itu, penghentian ekspor fosfat Cina dan kelangkaan kalium di pasar global juga menjadi pemicu kenaikan harga pupuk. Keadaan tersebut akhirnya yang membuat pemerintah memutuskan hanya mensubsidi dua pupuk.

Pupuk subsidi diperuntukan bagi petani dengan lahan maksimal dua hektare setiap musim tanam. Selain itu petani harus tergabung dalam Kelompok Tani serta terdaftar dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan).

Didorongnya Penggunaan Pupuk Organik

Terbatasnya pupuk subsidi membuat petani didorong untuk turut menggunakan pupuk organik. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL).

Mentan SYL mengajak para petani untuk meningkatkan penggunaan pupuk yang dibuat secara mandiri alias pupuk organik. Ia berujar, pupuk organik sangat dibutuhkan dan jumlah subsidi saat ini jumlahnya terbatas.

"Belum lagi bahan baku pupuk seperti gugus fosfat yang sebagian besar dikirim dari Ukraina dan Rusia tersendat karena perang keduanya," ujar Mentan SYL pasa Senin 25 Juli 2022.

"Jadi yang tidak dapat pupuk subsidi segeralah menghadirkan pupuk organik. Minimal setiap kabupaten harus jadi percontohan dan tidak mengandalkan bantuan pemerintah pusat," tambahnya.

Mengutip berbagai sumber, pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.

Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen, limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota atau sampah.

Sejarah Pupuk Organik

Menurut situs resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng Dinas Pertanian, pupuk organik digunakan sejak manusia mengenal bercocok tanam. Kira-kira 5.000 tahun yang lalu.

Nenek moyang kita memiliki kebiasaan menimbun sisa-sisa makanan seperi sayuran dan tulang ke dalam tanah. Tanah tersebut kemudian digunakan untuk bercocok tanam.

Mereka tidak sadar bahwa apa yang dilakukan memberikan dampak positif pada tanaman yang mereka tanam. Hingga akhirnya kebiasaan menimbun sisa makanan dilakukan dengan tujuan menyuburkan tanaman.

Sementara menurut Britannica, pertanian organik dikembangkan pada awal 1900-an oleh Sir Albert Howard, F.H. King, Rudolf Steiner, dan lain-lain.

Mereka percaya bahwa penggunaan kotoran hewan, tanaman penutup, rotasi tanaman, dan pengendalian hama berbasis biologis menghasilkan sistem pertanian yang lebih baik.

Howard, yang pernah bekerja di India sebagai peneliti pertanian, mendapatkan banyak inspirasi dari praktik pertanian tradisional dan berkelanjutan yang ia temui di India dan menganjurkan untuk diadopsi di Barat.

Praktik-praktik semacam itu selanjutnya dipromosikan oleh berbagai advokat—seperti J.I. Rodale dan putranya Robert, pada 1940-an dan seterusnya, yang menerbitkan majalah Organic Gardening and Farming dan sejumlah teks tentang pertanian organik.

Pupuk Organik di Indonesia

Di Indonesia, penggunaan pupuk organik sudah lama dikenal oleh para petani. Bahkan para petani hanya mengenal pupuk organik sebelum gebrakan revolusi hijau pada 1990-an.

Waktu itu pemerintah mengkomando penanaman padi, pemaksaan pemakaian bibit impor, pupuk kimia dan lain lain. Hal tersebut membuat Indonesia berjaya pada saat itu, bahkan sempat mengalami swasembada beras.

Karena pupuk anorganik lebih murah dan dinilai lebih praktis, para petani banyak menggunakan pupuk anorganik ketimbang pupuk organik. Sayangnya penggunaan pupuk anorganik justru menurunkan kesuburan tanah.

Video Terkait



Baca Juga: Sejarah Pupuk Organik, Andalkan Sampah dan Kotoran untuk Tanaman yang Subur
Pupuk Susidi Terbatas, Petani Jateng Gunakan Pupuk Organik