Mentan Ajak Generasi Muda Hadapi Krisis Pangan Global Melalui Inovasi Iptek

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. (Sariagri/Arief L)

Editor: M Kautsar - Selasa, 26 Juli 2022 | 11:45 WIB

Sariagri - Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengajak mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang, Jawa Timur, untuk bersama menghadapi berbagai ancaman krisis global. Di antaranya dengan meningkatkan kualitas akademik dan menguasai kemampuan teknologi mekanisasi untuk peningkatan produksi.

Penegasan itu disampaikan Syahrul dalam kuliah umum yang berlangsung secara hibrida. Menurutnya, mahasiswa Polbangtan Malang telah berada di jalur yang tepat yaitu menjadi bagian dari penjaga ketahanan pangan dunia.

"Tantangan krisis pangan dunia mesti dihadapi dengan cara yang luar biasa, bukan dengan strategi lama. Strategi pertanian, harus beradaptasi dengan tuntutan masa sekarang,” ucap Syahrul, Senin (25/7/2022).

Syahrul mengatakan krisis global yang terjadi saat ini akibat wabah Covid-19 membuat semua menjadi tersekat di wilayah masing-masing, yang berdampak pada perputaran ekonomi. Belum selesai Covid-19, lanjut dia, muncul climate change atau perubahan iklim yang terjadi secara ekstrem. Kondisi tersebut membuat produktivitas menurun, khususnya di negara-negara yang mengalami empat musim.

"Produktivitas di seluruh dunia menurun antara 30 sampai 42 persen," kata dia.

"Tantangan krisis pangan dunia itu harus kita hadapi dengan perubahan-perubahan agenda dan teknologi pertanian yang lebih maju serta menyesuaikan cara kita bertani, budidaya dan pasca panen atau menghilirisasikan pertanian agar lebih cepat," imbuhnya.

Menurut dia, peningkatan produksi penting dilakukan karena saat ini semua negara di dunia mengalami hal yang sama, krisis pangan. "Karena itu produksi dibutuhkan tidak hanya untuk kebutuhan nasional tetapi juga peluang ekspor yang bisa didorong dari bangsa ini. Selanjutnya, cara berperilaku bertani kita juga harus disesuaikan dengan tantangan-tantangan yang ada," katanya.

Menurut Syahrul, mahasiswa sebagai agen perubahan dalam berbagai aspek dan lini bangsa harus mampu beradaptasi dengan cepat. Termasuk mahasiswa Polbangtan dalam mengelola produksi pertanian yang lebih maju dan modern.

"Saya kira itu hari ini bersama mahasiswa Polbangtan, mudah-mudahan mereka menjadi orang-orang yang besok lebih bisa berbuat bagi bangsa dan negaranya ini. Kita berharap besok akan hadir pertanian-pertanian modern, dengan menggunakan teknologi yang lebih maju tanpa mengabaikan pentingnya manusia yang banyak di Indonesia untuk secara bijaksana termanfaatkan," katanya.

Syahrul optimistis, dengan mengokohkan sektor pertanian maka bangsa dan negara suatu negara juga akan menjadi kokoh. Terlebih pertanian bukan hanya sekedar pangan, akan tetapi juga kesehatan dan lapangan pekerjaan. "Pertanian itu memutar ekonomi kita. Intinya kita harus bisa beradaptasi dengan situasi apapun," ujarnya.

Menurutnya produktivitas tersebut berdampak pada munculnya kelaparan, meningkatnya pengangguran dan kemiskinan. Kegagalan negara atau negara bangkrut seperti yang terjadi Sri Langka menjadi ancaman serius.

Belum selesai kedua krisis tersebut, muncul perang Rusia-Ukraina yang berdampak pada sistem logistik dunia. Beruntung Indonesia relatif aman dari ancaman tersebut. Syahrul menyebut hal yang membuat krisis energi dan pangan global adalah pertanian.

"Pertanian menentukan hidup matinya dunia. Kuat dan kokohnya Indonesia karena sektor pertanian," kata mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu.

Syahrul mengatakan sektor pertanian telah berkontribusi besar bagi Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Sektor itu pula satu-satunya yang tumbuh di masa pandemi Covid-19. "Karena pertanian bagus, kalian masih bisa sekolah seperti ini," ucapnya disambut aplaus para peserta kuliah umum.

Mengakhiri kuliah umumnya, Syahrul berpesan kepada para mahasiswa Polbangtan Malang, sebagai generasi penerus bangsa agar menjaga jangan sampai Indonesia mengalami krisis.

Baca Juga: Mentan Ajak Generasi Muda Hadapi Krisis Pangan Global Melalui Inovasi Iptek
Kementan Fasilitasi Petani Milenial di Kalimantan Tengah

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, dalam kesempatan terpisah mengutarakan hal serupa. “Sebagai sektor yang mampu terus tumbuh saat pandemi, pertanian harus menjadi yang terdepan untuk memulihkan ekonomi. Termasuk dalam hal menjaga ketahanan pangan, untuk itu dibutuhkan peran semua pihak tak terkecuali para mahasiswa” kata Dedi.

Dia menambahkan sebagai lembaga akademis, Polbangtan Malang mendapatkan arahan dari Menteri Pertanian untuk mengajarkan dengan hati kepada para siswanya, agar mampu mencetak lulusan yang mumpuni di dunia pertanian yang semakin komplek. “Ke depannya dengan tantangan krisis pangan dunia yang sedang terjadi ini membuat lembaga akademis, Polbangtan Malang dituntut terus berinovasi menjadikan pertanian berbasis modernisasi. Sehingga mampu mencetak petani muda yang dapat menghasilkan ketersediaan pangan melimpah dan berkualitas, dengan begitu tercipta swadaya pangan hingga mengekspor komoditi pertanian lokal ke mancanegara,” tandasnya.

Video Terkait