Petani dan TNI AD di Trenggalek Perdana Panen Raya Padi Jepang

Padi jepang di Trenggalek. (Foto: Arief L/Sariagri)

Editor: Putri - Jumat, 15 Juli 2022 | 20:20 WIB

Para petani di Desa Kedungsigit, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, melakukan panen raya perdana hasil budidaya padi jepang (japonica) varietas Khoshihikari. Budidaya padi asal negeri sakura tersebut merupakan hasil kerjasama dengan Korem 081 Madiun. 

Komandan Korem 081/DJS Madiun, Kolonel inf. Deni Rejeki mengatakan, padi japonica varietas koshihikari yang ditanam pada lahan seluas 3 hektare di Desa Kedungsigit, merupakan perluasan lahan pertama di wilayah Trenggalek. 

“Budidaya padi japonica di Desa Kedungsigit merupakan yang pertama di wilayah Trenggalek. Pengembangan tanaman padi unggulan asal Jepang ini terbentuk dari hasil kerjasama TNI Angkatan Darat dengan petani dan PT Amerta Tani Maju (ATM) guna meningkatkan ketahanan pangan,” jelas Danrem 081 Madiun, Kolonel inf. Deni Rejeki kepada Sariagri, Jumat (15/7/2022).

Ia mengatakan selain di Trenggalek, budidaya padi jepang juga dilakukan di wilayah Kabupaten Ngawi. Total lahan yang sudah ditanami di Ngawi mencapai 22 hektare dan akan dikembangkan 1,6 hektare lagi.

"Sebagai lumbung pangan ketiga nasional, TNI AD punya lahan 1,6 hektare di Ngawi yang siap untuk ditanami padi jepang. Sebelumnya sudah ada 22 hektare padi jepang dan sudah dipanen dengan hasil gabah basah seberat lebih dari 100 ton. Selanjutnya siap untuk ditanami padi japonica kembali,” tambah Deni.

Budidaya padi jepang ini, lanjutnya, bertujuan memperkuat ketahanan pangan nasional sesuai perintah langsung dari Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman.

Lebih jauh Deni memaparkan dibanding dengan padi lokal, tanaman asal negara matahari terbit ini jauh lebih unggul. Batang padi ini memiliki tinggi hingga 1,2 meter dan tidak rawan ambruk jika diterpa angin kencang.

“Perbedaan secara nyata yang bisa kita saksikan, yakni padi japonica tingginya 120 cm dibandingkan padi lokal jauh sekali. Selain itu diterpa angin kencang tanaman padi ini tidak ambruk, bobot dari bulir padi juga lebih berat dan jumlahnya banyak, dalam satu bantang jumlahnya bisa mencapai 170 butir. Sudah saya perintah babinsa untuk menghitung, sedangkan padi lokal hanya sekitar 60 sampai 70 butir saja,” kata KASAD Jenderal Dudung Abdurachman.

Sementara Deni mengatakan bahwa keunggulan lain dari hasil panen juga jauh berbeda. Saat ini jenis padi lokal per hektare menghasilkan 4,5 ton, padi jepang ini bisa sampai 8 ton.

Penjelasan Kolonel inf. Deni Rejeki dibenarkan oleh Suparman, salah seorang petani desa setempat. Dari hasil uji coba tanam yang telah dilakukannya, padi japonica memiliki kualitas yang baik. Selain itu, cara tanam padi jepang hampir sama dengan padi lokal sehingga mudah diaplikasikan oleh petani.

“Bicara hasilnya lebih meningkat dengan mutu juga jauh lebih unggul. Bahkan dibandingkan dengan lahan yang ditanami padi kualitas premium, seperti punya petani lain disamping lahan saya ini, hasil panen yang diperoleh lebih maksimal,” aku Suparman.

Baca Juga: Petani dan TNI AD di Trenggalek Perdana Panen Raya Padi Jepang
Sejarah dan Alasan Petani Indonesia Pilih Sistem Tabela untuk Menanam Padi

Sementara itu, Direktur teknik PT ATM, Djoko Ardhityawan, menjelaskan pihaknya telah mengembangkan budidaya padi japonica di 9 Kabupaten di Jawa Timur. Hasilnya, dalam 1 hektare lahan mampu menghasilkan sekitar 8 hingga 9 ton padi.

“Keunggulannya, bulirannya lebih panjang dan butirannya juga lebih banyak. Selain itu kadar gulanya juga lebih rendah dibandingkan beras merah. Sekitar 12 sampai 15 persen di bawah merah merah. Untuk pengembangan di Jatim sudah ada 9 kabupaten antara lain Madiun, Bojonegoro, Tuban, hingga Jember dan tidak lama lagi akan dikembangkan ke Bali,” tandasnya.

Video Terkait