Askrindo Dorong Petani Tebu Naik Kelas Lewat Pendanaan UMK

Ilustrasi bibit tebu. (Pixabay)

Editor: M Kautsar - Kamis, 14 Juli 2022 | 11:30 WIB

Sariagri - PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) turut mendukung petani tebu di Magetan, Jawa Timur, bisa naik kelas melalui Program Pendanaan Usaha Mikro Kecil (PUMK).

Direktur Kepatuhan, SDM dan Manajemen Risiko Askrindo, Kun Wahyu Wardana dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, mengatakan berdasarkan performa bisnis dan pengembalian yang baik di tahun-tahun sebelumnya, pada 2022 PT Askrindo kembali menjalin kolaborasi dengan PTPN XI dengan menyalurkan dana PUMK sebesar Rp9,97 miliar untuk para petani tebu di wilayah PTPN XI.

"Sejalan dengan hal tersebut, kolaborasi Askrindo dan PTPN XI melalui program PUMK merupakan upaya meningkatkan produktifitas tebu dan pendapatan petani tebu rakyat serta dapat mendorong percepatan terwujudnya Swasembada Gula Nasional dan juga merupakan bukti nyata Askrindo menjalani Sustainable Development Goals (SDGs) No.8 terkait Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi," katanya.

Kun menjelaskan semakin meningkatnya laba perusahaan maka alokasi untuk membantu para pengusaha kecil termasuk petani semakin kuat. Dengan demikian, tujuan untuk meningkatkan taraf hidup pengusaha kecil serta meningkatkan lapangan kerja baru dapat terwujud.

Program PUMK sendiri bertujuan untuk meningkatkan kemampuan usaha mikro dan kecil agar menjadi tangguh dan mandiri sekaligus memberikan multiplier effect (dampak ganda) bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu penerima manfaat PUMK adalah Cahyorini, petani tebu asal Desa Rejosari, Magetan, Jawa Timur, yang mendapatkan bantuan akses pendanaan usaha mikro kecil dari PT Askrindo.

Untuk bertahan selama masa pandemi, Rini, sapaannya, terus berusaha meningkatkan produktivitas hasil tebunya dengan menambah luas sewa lahan serta membeli pupuk untuk persediaan di masa tanam.

Dengan biaya sewa lahan dan pupuk yang bervariasi serta meningkat tiap tahunnya, permodalan menjadi sangat penting bagi petani tebu seperti dirinya.

"Keterbatasan modal menjadi masalah utama yang dihadapi para petani, saya harus mempersiapkan modal di awal untuk tahun depan karena digunakan biaya tanam, biaya pupuk serta biaya makan untuk para pekerja tiap harinya, akan tetapi dengan adanya bantuan modal dari program PUMK Askrindo, kami para petani tebu sangat merasa terbantu untuk terus meningkatkan taraf hidup kami," ungkap Rini.

Peningkatan produktivitas tebu secara otomatis berdampak pada peningkatan omzet dan keuntungan Rini. Berkat hal itu, kini ibu beranak tujuh itu mampu menyekolahkan serta menguliahkan anak-anaknya di sekolah dan universitas favorit.

Baca Juga: Askrindo Dorong Petani Tebu Naik Kelas Lewat Pendanaan UMK
Pupuk Indonesia Siap Berinovasi Demi Hadapi Persaingan Global



Selain itu, dengan kemudahan skema pengembalian PUMK dari Askrindo melalui Pabrik Gula (PG) Redjosarie, Rini pun masih bisa mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

"Jadi untuk pengembalian modal kerjanya, itu dengan pemotongan hasil jual tebu ke PG Redjosarie. Misalkan pengiriman tebu pertama kami tidak dipotong, pengiriman kedua dan seterusnya kami baru dipotong dari total pembayaran kami untuk melunasi PUMK dan itu sangat membantu saya sekali," ujar Rini.

Video Terkait