Menjaga Kelembaban Tanah Adaptasi Tepat Petani di Tengah Pemanasan Global

Ilustrasi petani di sawah. (Pixabay)

Editor: M Kautsar - Rabu, 13 Juli 2022 | 13:40 WIB

Sariagri - Salah satu tantangan petani menghadapi perubahan iklim adalah peningkatan suhu panas membuat lebih banyak lahan menjadi kekeringan.

Debjani Sihi seorang peneliti dari Emory University mengungkapkan, secara global ada sekitar 750 juta orang kekurangan gizi pada 2019 akibat dari perubahan iklim yang menurunkan produksi pangan, menaikkan harga pangan dan meningkatkan persaingan penggunaan tanah dan air.

Bahkan, hasil panen dunia diproyeksikan menurun hingga 25 persen dalam 25 tahun mendatang karena perubahan iklim. Sementera produksi pangan global perlu dilipat gandakan pada tahun 2050 untuk memenuhi seluruh populasi manusia saat itu.

Sihi menegaskan bahwa menjaga tanah tetap sehat adalah komponen kunci yang diperlukan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

Sebuah studi yang terbit pada Jurnal Frontiers in Sustainable Food Systems mengungkapkan analisis data selama 30 tahun untuk tanaman utama di AS seperti jagung, kedelai, kapas dan gandum. Para peneliti berusaha untuk mengukur dampak jangka panjang dari iklim dan sifat tanah pada hasil tanaman tersebut.

"Pada saat yang sama, para petani menghadapi peristiwa cuaca yang lebih ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim, mereka juga menghadapi masalah degradasi tanah yang semakin meningkat," kata Sihi sebagai peneliti pertama studi tersebut dari Emory University dikutip dari Phys.

Hasil penelitian pun mengungkapkan hari derajat tumbuh dan kapasitas menahan air sebagai sifat tanah yang paling berpengaruh untuk variabilitas hasil tanaman.

"Pesan yang dubawa pulang adalah bahwa petani di daerah yang menghadapi tekanan panas tambahan untuk tanaman mereka mungkin ingin secara proaktif fokus pada kapasitas menahan air pada tanah milik mereka," jelas Sihi.

Baca Juga: Menjaga Kelembaban Tanah Adaptasi Tepat Petani di Tengah Pemanasan Global
Irigasi Sawah Rusak Akibat Penambangan, Ratusan Petani 4 Desa di Probolinggo Turun Unjuk Rasa



Sebab, kata Sihi, tanah yang kaya akan bahan organik lebih baik dalam menahan air. Namun, untuk tanah berpasir atau tanah yang mengandung sedikit bahan organik bisa dilakukan adaptasi yang memungkinkan yaitu menggunakan lebih banyak mulsa untuk mengurangi penguapan saat suhu panas meningkat.

Dari hasil studi itu, para peneliti berharap bahwa temuan mereka akan membantu petani, spesialis pengelolaan lahan, dan pembuat kebijakan dalam pengambilan keputusan terkait dengan praktik pengelolaan tanah, air, dan tanaman yang berkelanjutan dan dalam jangka panjang.

Video Terkait