Program Gagal Pertanian Organik, Pelajaran Penting dari Sri Lanka

Aktivitas petani teh Sri Lanka

Editor: Yoyok - Senin, 11 Juli 2022 | 14:30 WIB

Sariagri - Terinspirasi sistem pertanian berkelanjutan, terutama di Eropa, Sri Lanka di bawah kepemimpinan Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa pada tahun 2019 melarang penggunaan bahan kimia pertanian. Tujuannya ambisius: mengubah Sri Lanka menjadi negara pertama dengan pertanian organik 100 persen. 

Rajapaksa kemudian mentransisikan petani negara itu ke pertanian organik selama 10 tahun. Pemerintah juga melarang impor pupuk kimia, penggunaan pestisida sintetis, dan memerintahkan 2 juta petani di negara itu untuk beralih ke organik.

Saat program organik dijalankan, kondisi keuangan Sri Lanka ternyata sedang tidak baik-baik saja. Kian parah lagi wabah Covid-19 melanda sehingga membuat devisa negara itu terpuruk.

Program brutal sistem organik juga membuat petani kewalahan. Selain tidak mampu menyiapkan pengganti pupuk kimia, petani juga belum terbiasa. Akibatnya, petani Sri Lanka seperti “sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Bumerang pun tak terhindarkan. 

Al Jazeera melaporkan bahwa hampir sepertiga dari semua lahan pertanian di negara itu tetap tidak aktif karena larangan impor pupuk. Dalam waktu enam bulan setelah pelarangan, produksi beras, komoditas yang sebelumnya melimpah, turun 20 persen, sehingga memaksa Sri Lanka mengimpor beras senilai 450 juta dolar AS untuk memenuhi kebutuhan pasokan dan lonjakan harga beras yang naik hampir 50 persen.

Pemerintah juga harus menanggung kompensasi senilai 40.000 juta rupee atau 200 juta dolar AS untuk petani yang mengalami panen gagal. Selain pendanaan, pemerintah Sri Lanka harus pula membayar subsidi harga sebesar 149 juta dolar AS kepada petani padi yang terkena dampak kerugian.

Lebih dari itu, larangan penggunaan pupuk kimia  juga menghancurkan tanaman teh, ekspor utama dan sumber utama devisa. Padahal, Sri Lanka adalah pengekspor teh terbesar ke-2 di dunia, dan ekspornya yang paling dikenal luas, teh Ceylon. Teh jeni ini dianggap oleh Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) sebagai teh terbersih di dunia dalam hal residu pestisida.

Tetap Impor Pupuk

Anehnya lagi, kebutuhan pupuk organik bukan semata dari dalam negeri. Sri Lanka juga harus mengimpor pupuk organik dari China sebagai bagian dari upayanya untuk menjadi negara pertanian organik 100 persen pertama di dunia. Nutrisi tanaman organik dari China ini sebenarnya dimaksudkan untuk menggantikan bahan kimia yang telah dihapus selama musim tanam padi utama yang dimulai pada 15 Oktober tahun lalu. 

Itu terjadi menyusul protes petani yang meluas terkait pengabaian bahan kimia untuk pertanian akan berdampak kritis terhadap hasil panen, pemerintah pada pekan lalu mencabut larangan pupuk kimia yang diberlakukan pada Mei 2021.

Sejak saat itu, Sri Lanka telah mengimpor 30.000 ton kalium klorida sebagai pupuk dan sekitar 3 juta L nutrisi tanaman berbasis nitrogen dari India.

Kegagalan Sri Lanka mengembangkan organik telah terjadi. Departemen Pertanian AS (USDA) tahun 2021 melaporkan mengenai peralihan negara ke hanya praktik organik, badan tersebut memperkirakan “kurangnya kapasitas produktif pupuk organik, ditambah dengan tidak adanya rencana formal untuk mengimpor pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia, meningkatkan potensi kerugian yang merugikan. berdampak pada ketahanan pangan.” 

Selain itu, karena program organik Sri Lanka dijalankan oleh orang yang bukan ahlinya. Kebanyakan dilaksanakan oleh kalangan birokrat yang tak mengerti pertanian, apalagi soal organik. Bahkan, gerakan masyarakat sipil baru yang disebut Viyathmaga merupakan tim sukses sang presiden. 

Aktivis Lingkungan Bisu

Sejak rencana itu diumumkan, para ahli agronomi di Sri Lanka dan di seluruh dunia memperingatkan bahwa hasil pertanian akan turun secara substansial. Namun, pemerintah mengklaim akan meningkatkan produksi pupuk kandang dan pupuk organik lainnya sebagai pengganti pupuk sintetis impor. Padahal, tidak mungkin bangsa ini dapat memproduksi cukup pupuk di dalam negeri untuk menutupi kekurangan tersebut.

Ted Nordhaus, Direktur Eksekutif Breakthrough Institute AS, menulis In Sri Lanka, Organic Farming Went Catastrophically Wrong di foreignpolicy.com, mengemukakan tidak mungkin penjualan ekspor ke pasar organik yang bernilai lebih tinggi dapat menutupi penurunan tajam dalam produksi. Seluruh pasar global untuk teh organik, misalnya, hanya menyumbang sekitar 0,5 persen dari pasar teh global. 

“Produksi teh Sri Lanka sendiri lebih besar dari seluruh pasar teh organik global. Membanjiri pasar organik dengan sebagian besar atau seluruh produksi teh Sri Lanka, bahkan setelah produksi turun setengahnya karena kekurangan pupuk, hampir pasti akan membuat harga teh organik global melonjak,” papar Nordhaus.

Runyamnya lagi, Vandana Shiva, seorang aktivis lingkungan India, yang mendukung program organikm menjadi bisu ketika konsekuensi kejam larangan itu menjadi jelas. Food Tank, sebuah kelompok advokasi yang didanai oleh Rockefeller Foundation yang mempromosikan penghapusan pupuk kimia dan subsidi di Sri Lanka, juga tidak mengatakan apa-apa sekarang bahwa kebijakan yang disukainya telah berubah menjadi bencana.

Baca Juga: Program Gagal Pertanian Organik, Pelajaran Penting dari Sri Lanka
Pemkot Ambon Dukung Pengembangan Komoditi Hortikultura Organik

Tak lama kemudian, para advokat pasti akan berargumen bahwa masalahnya bukan pada praktik organik yang mereka sebut-sebut tetapi dengan langkah cepat untuk menerapkannya di tengah krisis. Tetapi meskipun larangan langsung terhadap penggunaan pupuk pasti disalahpahami, secara harfiah tidak ada contoh negara penghasil pertanian utama yang berhasil beralih ke produksi organik atau agroekologi sepenuhnya. 

Bahkan, Uni Eropa, yang telah menjanjikan transisi skala penuh menuju pertanian berkelanjutan selama beberapa dekade, juga diam. Inilah konsekuensi program pertanian organik: gagal dan bangkrut.

Video Terkait